Berita

Front Peduli Rakyat Yahukimo Soroti Operasi Militer dan Dampak Kemanusiaan di Yahukimo

WAMENA, TOMEI.ID | Front Peduli Rakyat Yahukimo menilai situasi keamanan dan kemanusiaan di Kabupaten Yahukimo, Papua Pegunungan, darurat dan mengancam nyawa warga akibat operasi militer yang berlangsung sejak 2021 hingga 2026.

Menurut Penanggung Jawab Front Peduli Rakyat Yahukimo di Kabupaten Jayawijaya, Yon Iksomon, operasi militer “Damai Cartenz” telah menimbulkan ketakutan hebat di kalangan warga sipil dan secara nyata mengganggu kehidupan masyarakat adat.

“Sejak operasi dimulai pada November 2021, rakyat hidup dalam ketakutan terus-menerus di bawah ancaman. Operasi ini terus menyasar wilayah sipil hingga sekarang,” ujar Yon dalam keterangan pers yang diterima tomei.id, Rabu (21/1/2026).

Yon menambahkan, pada Desember 2025 terjadi peningkatan signifikan kekuatan militer, dengan sekitar 600 personel didrop melalui sungai Brazza dan udara ke Kota Dekai. Ia menilai peningkatan operasi militer berkaitan dengan kepentingan investasi yang masuk ke Yahukimo melalui elite politik lokal.

Front Peduli Rakyat Yahukimo juga mencatat sejumlah kasus kekerasan terhadap warga sipil, termasuk pembunuhan dua ibu di Kilometer 4, Dekai, dan pengeboman dengan granat dari drone di Distrik Duram pada November 2025, yang menewaskan pelajar berusia 17 tahun, Listin Sam, serta melukai Sisa Dapla.

Koordinator Lapangan Umum, Andi Heluka, mengatakan bahwa rumah-rumah warga dijadikan sasaran serangan brutal. Operasi ini bukan sekadar keamanan, tapi ancaman nyata bagi keselamatan rakyat sipil.

“Warga yang terdampak kini hidup dalam ketakutan, banyak yang mengungsi dan meninggalkan harta benda mereka. Situasi ini menimbulkan krisis kemanusiaan, di mana hak dasar untuk rasa aman dan hidup layak terus terancam,” ujarnya.

Andi menambahkan, ada dugaan penangkapan dan penyiksaan warga sipil, termasuk seorang tunawicara, Yuniut Yalak, pada 13 Desember 2025. Banyak warga terpaksa mengungsi, dan kondisi kesehatan pengungsi memprihatinkan karena minim akses medis.

Selain itu, Front Peduli Rakyat Yahukimo mencatat korban meninggal akibat parahnya kurangnya layanan kesehatan, seperti Humuin Bahabol dari Distrik Sumo dan Ashepia Yalak, anak berusia lima tahun dari Kampung Debula.

Menyikapi kondisi ini, Front Mahasiswa Yahukimo se-Indonesia mendesak pemerintah menarik seluruh TNI-Polri, menghentikan operasi militer, dan membuka akses bagi lembaga kemanusiaan serta jurnalis. Mereka juga menuntut pembebasan tahanan politik dan penyelesaian damai melalui dialog yang menghormati hak rakyat Papua. [*].

Redaksi Tomei

Recent Posts

KNPB Nabire Gelar Pendidikan Politik bagi Sektor Yamewa, Bahas Sejarah dan Struktur Organisasi

NABIRE, TOMEI.ID | Komite Nasional Papua Barat (KNPB) Wilayah Nabire menggelar pendidikan politik bagi anggota…

19 jam ago

Hadapi KLB Campak, Puskesmas Mokwam Siapkan ORI dan Kejar Cakupan 95 Persen

MANOKWARI, TOMEI.ID | Penanggulangan Kejadian Luar Biasa (KLB) Campak di Kabupaten Manokwari, Provinsi Papua Barat…

19 jam ago

Masyarakat Tibai Minta Pemprov Papua Tengah dan Pemkab Nabire Buka Akses Jalan Darat dan Listrik

NABIRE, TOMEI.ID | Masyarakat Kampung Tibai, Distrik Siriwo, Kabupaten Nabire, mendesak Pemerintah Provinsi (Pemprov) Papua…

19 jam ago

100 lebih Mahasiswa Yahukimo Kehilangan Tempat Tinggal, Mengungsi di Gereja GIDI Manokwari

MANOKWARI, TOMEI.ID | Lebih dari 100 mahasiswa asal Kabupaten Yahukimo, Papua Pegunungan, yang sedang menempuh…

22 jam ago

Jembatan Gantung Sungai Minabu Mulai Terwujud, Warga Pugisiga Apresiasi Pemkab Intan Jaya

INTAN JAYA, TOMEI.ID | Pembangunan jembatan gantung di Sungai Minabu yang menghubungkan Kampung Pugisiga dan…

2 hari ago

PASTI Kukuhkan Pengurus DPW dan DPC di Delapan Kabupaten Papua Tengah

NABIRE, TOMEI.ID | Dewan Pimpinan Pusat Partai Setara Indonesia (DPP PASTI) mengukuhkan kepengurusan Dewan Pimpinan…

2 hari ago