Berita

Wamendagri Tegur Pemda di Tanah Papua yang Belum Tetapkan APBD 2026

JAKARTA, TOMEI.ID | Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) menyoroti sejumlah pemerintah daerah (Pemda) di Tanah Papua yang hingga Januari 2026 belum menetapkan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Tahun Anggaran 2026 di DPRP maupun DPRK.

Wakil Menteri Dalam Negeri (Wamendagri), Ribka Haluk, menegaskan, penetapan APBD seharusnya sudah rampung sebelum memasuki tahun anggaran berjalan. Keterlambatan tersebut dinilai berpotensi menghambat jalannya pembangunan dan pelayanan publik di Papua.

“Masih ada pemda yang sudah menetapkan APBD, tapi juga masih ada yang belum. Ini tidak boleh dibiarkan berlarut-larut, karena merugikan kepentingan masyarakat luas, khususnya pelayanan dan pembangunan dasar publik,” tegas Ribka, Selasa (20/1/2026).

Ribka Haluk menyampaikan, pemerintah pusat melalui Kemendagri bersama Bappenas dan Kementerian Keuangan telah mendorong seluruh pemerintah daerah di Papua, baik provinsi maupun kabupaten/kota, untuk segera menyelesaikan penetapan APBD, seiring finalisasi Rencana Anggaran dan Program Dana Otonomi Khusus (RAP Otsus) Tahun 2026.

“Di bulan Januari ini, enam provinsi dan 42 kabupaten/kota se-Tanah Papua harus sudah menetapkan APBD di DPRP dan DPRK, tanpa alasan penundaan yang menghambat pelayanan publik,” ujarnya.

Selain penetapan APBD, Ribka juga menekankan kewajiban pemerintah daerah untuk segera menyerahkan Dokumen Pelaksanaan Anggaran (DPA) kepada seluruh Organisasi Perangkat Daerah (OPD), sebagai dasar pelaksanaan program dan kegiatan pembangunan daerah.

“Januari ini sudah harus penetapan APBD dan pembagian DPA. Dengan begitu, Februari sudah bisa masuk tahapan lelang pengadaan barang dan jasa, tanpa alasan administratif yang menghambat percepatan pembangunan daerah,” jelasnya.

Ribka yang juga anggota Komite Eksekutif Percepatan Pembangunan Otsus Papua menegaskan, keterlambatan penetapan APBD akan berdampak langsung pada rendahnya penyerapan anggaran dan tertundanya program pembangunan di daerah, serta memperlebar kesenjangan pelayanan publik bagi masyarakat.

“Jika penyerapan anggaran tidak optimal, masyarakat tidak merasakan manfaat pembangunan. Itu berarti program tidak berjalan, dan negara gagal memenuhi tanggung jawab pelayanan publiknya,” tegasnya.

Wamendagri mengingatkan, tingginya Sisa Lebih Pembiayaan Anggaran (SiLPA) justru mencerminkan lemahnya pelaksanaan anggaran. Bahkan, dana yang tidak dibelanjakan untuk kepentingan rakyat berpotensi menjadi persoalan serius dalam pengelolaan keuangan daerah, serta berdampak langsung bagi masyarakat.

“Anggaran itu harus dibelanjakan untuk rakyat. Kalau tidak digunakan, itu menjadi masalah, bahkan bisa diambil alih oleh pemerintah pusat, sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku,” katanya.

Lebih lanjut, Ribka menekankan agar ke depan seluruh finalisasi APBD dan RAP Otsus diselesaikan paling lambat Desember, sehingga pada awal tahun anggaran berikutnya pelaksanaan pembangunan sudah dapat berjalan.

“Di era pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka, tata kelola pemerintahan dan dana Otsus terus diperbaiki agar lebih efektif dan tepat sasaran, demi kesejahteraan rakyat Papua secara berkelanjutan,” ujarnya.

Ribka juga mengapresiasi capaian realisasi dana Otsus Papua tahun 2025 yang telah mencapai 100 persen di seluruh pemerintah daerah, sebagai bukti peningkatan transparansi dan akuntabilitas pengelolaan.

“Ini langkah maju. Sekarang para gubernur, bupati, dan wali kota harus memastikan dana Otsus itu benar-benar sampai kepada penerima yang berhak, terutama Orang Asli Papua (OAP), dengan data yang akurat, dan digunakan sesuai kebutuhan masyarakat nyata,” pungkasnya. [*].

Redaksi Tomei

Recent Posts

IMYAL Manokwari Tak Kirim Delegasi MUSORMA HMKY VII, Soroti Tata Kelola dan Partisipasi

MANOKWARI, TOMEI.ID | Ikatan Mahasiswa Yalimo (IMYAL) Kota Studi Manokwari menyatakan tidak mengirimkan delegasi dalam…

2 jam ago

Lima Tahun Menunggu, Marga Ateta Tahan Kunci Kendaraan Genting Oil

BINTUNI, TOMEI.ID | Persoalan pembayaran hak wilayah adat kembali menjadi perhatian di Kampung Forada, Distrik…

2 jam ago

Dinas Pendidikan Papua Tengah Perkuat Tenaga MAPEGA, Atasi Kekurangan Guru di Wilayah 3T

NABIRE, TOMEI.ID | Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Papua Tengah memperkuat kapasitas tenaga MAPEGA Guru…

2 jam ago

Kepala Suku Besar Kamoro Siap Turun ke Kapiraya, Rangkul Mee dan Kamoro Selesaikan Batas Adat

NABIRE, TOMEI.ID | Kepala Suku Besar Kamoro, Yohanis Boyau, menyatakan siap turun langsung ke Kapiraya…

3 jam ago

Gubernur Meki Nawipa: Atlet Pelajar Disabilitas Jangan Minder, Tunjukkan Kemampuan di PEPARDA

NABIRE, TOMEI.ID | Dalam pembukaan PEPARDA perdana, Gubernur Papua Tengah Meki Nawipa menegaskan pentingnya keberanian,…

3 jam ago

Hari Kedua Penguatan Kapasitas MAPEGA Nabire, Nurhaidah Soroti Kekurangan Guru di Daerah 3T

NABIRE, TOMEI.ID | Pemerintah Provinsi (Pemprov) Papua Tengah, memperkuat kapasitas tenaga MAPEGA guru daerah tertinggal,…

4 jam ago