Berita

IMPPETANG Suarakan Penolakan Militerisasi dan Tambang di Pegunungan Bintang

JAYAPURA, TOMEI.ID | Ikatan Mahasiswa Pelajar Pegunungan Bintang (IMPPETANG) se-Indonesia menyuarakan penolakan tegas terhadap operasi militer dan eksploitasi sumber daya alam di wilayah adat Pegunungan Bintang.

Aspirasi tersebut disampaikan melalui mimbar bebas yang digelar di Asrama Mahasiswa Pegunungan Bintang, Buper Waena, Jayapura, pada Sabtu (4/10/2024).

Aksi ini menjadi wadah bagi mahasiswa untuk menyampaikan keprihatinan terhadap meningkatnya eskalasi militer dan rencana investasi tambang yang dinilai mengancam keselamatan warga sipil serta keberlanjutan lingkungan hidup.

Yosias Lepki, anggota IMPPETANG, menegaskan bahwa kehadiran aparat bersenjata dalam jumlah besar di Pegunungan Bintang menimbulkan dampak psikologis yang berat bagi masyarakat.

“Warga hidup dalam ketakutan dan kehilangan kebebasan. Banyak keluarga terpaksa mengungsi ke Wamena, hutan, bahkan hingga melintasi perbatasan Papua Nugini,” ujarnya.

Sementara itu, Danielson Uropmabin, penanggung jawab aksi, menyatakan bahwa dalih keamanan tidak bisa dijadikan alasan untuk membangun pos militer di fasilitas publik.

“Penempatan pos militer justru menimbulkan kepanikan dan memperparah penderitaan rakyat,” tegasnya.

Dalam mimbar bebas tersebut, IMPPETANG se-Indonesia menegaskan penolakan terhadap penempatan pasukan militer, baik organik maupun nonorganik, di Kabupaten Pegunungan Bintang.

Menurut mereka, kebijakan itu hanya memperparah situasi kemanusiaan dan menimbulkan ketakutan di kalangan masyarakat sipil. Mereka juga mendesak pemerintah segera mengevakuasi para pengungsi yang terlantar di Distrik Kiwirok dan Oksop akibat konflik bersenjata.

Selain itu, IMPPETANG meminta Bupati Pegunungan Bintang, Spei Yan Bidana, untuk menghentikan pemberian izin baru kepada investor tambang yang berpotensi merusak lingkungan dan mengancam kehidupan masyarakat adat. Mereka juga menolak rencana pembangunan tujuh pos militer di Distrik Serambakon yang dinilai tidak mendapat persetujuan masyarakat setempat.

Poin sikap lainnya adalah penolakan terhadap rencana pembukaan tambang batu kristal plasma dan emas di Distrik Pepera yang dikhawatirkan merusak tanah adat.

IMPPETANG juga menuntut aparat keamanan menghentikan praktik kriminalisasi terhadap warga sipil tanpa bukti yang jelas, serta mendesak pemerintah membuka ruang dialog inklusif yang melibatkan mahasiswa, lembaga adat, dan pihak militer guna mencari solusi damai dan berkeadilan bagi masyarakat Pegunungan Bintang.

Lebih jauh, IMPPETANG menilai bahwa konflik berkepanjangan di Papua hanya dapat diselesaikan melalui pendekatan politik yang adil dan bermartabat. Mereka menyerukan agar pemerintah pusat membuka ruang demokratis bagi rakyat Papua untuk menentukan nasibnya sendiri.

Gerakan ini, menurut IMPPETANG, lahir dari keprihatinan sekaligus tekad mahasiswa untuk membela masyarakat adat dan memastikan tanah serta sumber daya Pegunungan Bintang tidak dikorbankan demi kepentingan militer maupun investasi yang merugikan rakyat. [*].

Redaksi Tomei

Recent Posts

Pala Wondama Didorong Naik Kelas, FATETA UNIPA dan TEP 8 UI Siapkan Produk UMKM Bernilai Tambah

TELUK WONDAMA, TOMEI.ID | Fakultas Teknologi Pertanian (FATETA) Universitas Papua (UNIPA) bersama Tim Ekspedisi Patriot…

1 jam ago

UNIPA Bahas Pengelolaan Kebakaran Terpadu, Indonesia–Australia Perkuat Ketahanan Iklim Papua

MANOKWARI, TOMEI.ID | Pengelolaan kebakaran hutan dan lahan di Indonesia mulai diarahkan pada pendekatan terpadu…

2 jam ago

KNPB Nabire Desak Peninjauan Perjanjian 1962, Soroti Krisis Kemanusiaan dan Minta Mediasi Internasional

NABIRE, TOMEI.ID | Komite Nasional Papua Barat (KNPB) Wilayah Nabire kembali menyoroti persoalan sejarah dan…

2 jam ago

Dinsos Papua Pegunungan Salurkan Bantuan ke Tujuh Panti, Lima Titik Sudah Terjangkau

WAMENA, TOMEI.ID | Dinas Sosial (Dinsos) Provinsi Papua Pegunungan menyalurkan bantuan bahan pokok kepada panti…

2 jam ago

DPRK Nduga Pacu Dua Raperda, Fokus Stabilkan Harga dan Perluas Kerja Sama Daerah

NDUGA, TOMEI.ID | Badan Pembentukan Peraturan Daerah (BAPEMPERDA) Dewan Perwakilan Rakyat Kabupaten (DPRK) Nduga, Papua…

3 jam ago

Gubernur Meki Tegaskan Papua Tengah Benahi Tata Kelola Otsus, Data OAP Jadi Prioritas

NABIRE, TOMEI.ID | Pemerintah Provinsi (Pemprov) Papua Tengah memperkuat pembenahan tata kelola Otonomi Khusus (Otsus)…

3 jam ago