Berita

KADIN Dogiyai Dorong Kopi Kembali Jadi Penggerak Ekonomi Masyarakat

NABIRE, TOMEI.ID | Ketua Kamar Dagang dan Industri (KADIN) Kabupaten Dogiyai, Amatus Anouw, mendorong masyarakat kembali mengembangkan tanaman kopi sebagai salah satu komoditas potensial untuk memperkuat ekonomi keluarga dan masyarakat di daerah tersebut.

Dorongan itu disampaikan Amatus karena menilai potensi perkebunan Dogiyai, khususnya kopi, perlu kembali digerakkan dengan melibatkan masyarakat secara berkelanjutan untuk memperkuat ekonomi keluarga dan kampung.

Amatus mengatakan Dogiyai memiliki lahan dan kondisi alam yang mendukung pengembangan tanaman kopi. Karena itu, masyarakat diharapkan tidak meninggalkan kebun, tetapi kembali memanfaatkan lahan yang tersedia untuk menghasilkan komoditas yang dapat memberikan pendapatan bagi keluarga.

“Saya mengajak seluruh masyarakat Dogiyai untuk kembali menanam kopi. Kita memiliki tanah dan kondisi alam yang mendukung. Jangan biarkan potensi ini hilang, tetapi harus kita kembangkan menjadi sumber pendapatan bagi keluarga dan masyarakat,” ujar Amatus saat ditemui wartawan di Kantor KADIN Provinsi Papua Tengah, Kalibobo, Distrik Nabire, Kabupaten Nabire, Senin (28/9/2026).

Menurutnya, kopi tidak sekadar menjadi tanaman perkebunan, tetapi dapat dikembangkan sebagai bagian dari penguatan ekonomi masyarakat dari tingkat kampung. Potensi tersebut dapat memberikan nilai tambah apabila dikelola secara serius mulai dari pembibitan, penanaman, pemeliharaan, panen, pengolahan hingga pemasaran.

Ia menilai pengembangan kopi juga membuka ruang bagi masyarakat untuk membangun usaha berbasis potensi lokal, sehingga aktivitas ekonomi tidak hanya bergantung pada sektor tertentu.

Amatus secara khusus mendorong generasi muda Dogiyai melihat sektor perkebunan sebagai peluang usaha. Menurutnya, anak-anak muda tidak harus selalu meninggalkan kampung untuk mencari pekerjaan, karena kebun juga dapat menjadi ruang untuk menciptakan usaha dan pendapatan.

“Anak-anak muda juga harus melihat kebun sebagai peluang usaha. Kopi bisa dikembangkan menjadi usaha keluarga, koperasi, UMKM, bahkan menjadi produk yang dipasarkan keluar Dogiyai,” katanya.

Untuk mewujudkan hal tersebut, Amatus menilai pengembangan kopi membutuhkan keterlibatan berbagai pihak. Pemerintah daerah, KADIN, kelompok tani, koperasi, pelaku usaha dan masyarakat perlu membangun kerja sama agar petani memperoleh akses terhadap bibit, pendampingan, teknologi pengolahan hingga jaringan pemasaran.

Menurutnya, persoalan pengembangan kopi tidak cukup hanya dengan meningkatkan produksi, tetapi juga harus diikuti penguatan kapasitas petani dan akses pasar agar hasil kebun memiliki nilai ekonomi yang lebih tinggi.

Amatus juga mendorong agar kopi Dogiyai tidak berhenti sebagai bahan mentah. Ia menilai proses pengolahan dan pengemasan perlu dikembangkan sehingga komoditas tersebut dapat memiliki nilai tambah sekaligus membuka peluang usaha baru bagi masyarakat.

“Ke depan, kopi Dogiyai harus kita dorong agar tidak hanya dijual sebagai bahan mentah. Kita perlu melihat bagaimana kopi ini dapat diolah, dikemas dan dipasarkan sehingga nilai ekonominya kembali kepada masyarakat,” ujarnya.

Amatus menegaskan KADIN Kabupaten Dogiyai siap mendorong kerja sama dengan pemerintah daerah dan dunia usaha dalam membuka akses pemasaran serta memperluas pengembangan usaha berbasis komoditas lokal.

“Kita harus mulai dari sekarang. Kembali ke kebun, tanam kopi, rawat dan kembangkan. Kalau masyarakat bergerak bersama, kopi dapat menjadi salah satu kekuatan ekonomi Dogiyai,” tegasnya.

Ia berharap gerakan menanam dan mengembangkan kopi dapat kembali menjadi perhatian masyarakat di berbagai kampung di Kabupaten Dogiyai. Dengan pengelolaan yang berkelanjutan, komoditas tersebut diharapkan mampu membuka peluang usaha, memperkuat pendapatan keluarga dan mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat dari kampung.

Bagi KADIN Dogiyai, pengembangan kopi bukan hanya soal menanam, tetapi membangun mata rantai ekonomi dari kebun hingga pasar agar potensi masyarakat dapat tumbuh menjadi kekuatan ekonomi daerah yang berkelanjutan, menciptakan lapangan usaha, serta meningkatkan pendapatan petani dan keluarga. [*]

Redaksi Tomei

Recent Posts

Pala Wondama Didorong Naik Kelas, FATETA UNIPA dan TEP 8 UI Siapkan Produk UMKM Bernilai Tambah

TELUK WONDAMA, TOMEI.ID | Fakultas Teknologi Pertanian (FATETA) Universitas Papua (UNIPA) bersama Tim Ekspedisi Patriot…

50 menit ago

UNIPA Bahas Pengelolaan Kebakaran Terpadu, Indonesia–Australia Perkuat Ketahanan Iklim Papua

MANOKWARI, TOMEI.ID | Pengelolaan kebakaran hutan dan lahan di Indonesia mulai diarahkan pada pendekatan terpadu…

1 jam ago

KNPB Nabire Desak Peninjauan Perjanjian 1962, Soroti Krisis Kemanusiaan dan Minta Mediasi Internasional

NABIRE, TOMEI.ID | Komite Nasional Papua Barat (KNPB) Wilayah Nabire kembali menyoroti persoalan sejarah dan…

2 jam ago

Dinsos Papua Pegunungan Salurkan Bantuan ke Tujuh Panti, Lima Titik Sudah Terjangkau

WAMENA, TOMEI.ID | Dinas Sosial (Dinsos) Provinsi Papua Pegunungan menyalurkan bantuan bahan pokok kepada panti…

2 jam ago

DPRK Nduga Pacu Dua Raperda, Fokus Stabilkan Harga dan Perluas Kerja Sama Daerah

NDUGA, TOMEI.ID | Badan Pembentukan Peraturan Daerah (BAPEMPERDA) Dewan Perwakilan Rakyat Kabupaten (DPRK) Nduga, Papua…

2 jam ago

Gubernur Meki Tegaskan Papua Tengah Benahi Tata Kelola Otsus, Data OAP Jadi Prioritas

NABIRE, TOMEI.ID | Pemerintah Provinsi (Pemprov) Papua Tengah memperkuat pembenahan tata kelola Otonomi Khusus (Otsus)…

2 jam ago