Berita

Kaki Keseleo H-7 Wisuda, Rafika Syahabudin Tetap Tegak Raih Gelar Magister

Oleh: Antonius M. Degei

Langkah Rafika M. Syahabudin, S.E., M.M., menuju panggung wisuda tidak berjalan seperti yang ia bayangkan. Tujuh hari sebelum hari kelulusan, kaki perempuan kelahiran Enaratoli, Paniai, 16 Agustus 1977, itu mengalami keseleo. Rasa sakit sempat hadir bersamaan dengan kekhawatiran, tetapi tekad untuk menyelesaikan perjuangan akademiknya ternyata jauh lebih kuat.

Pada Selasa, 2 September 2026, Rafika tetap hadir dalam prosesi wisuda di Hotel Dalton Makassar. Dengan kondisi kaki yang belum sepenuhnya pulih, ia berdiri sebagai salah satu wisudawati Magister Manajemen Universitas Kristen Indonesia Paulus Makassar. Di hadapan suasana penuh kebahagiaan itu, rasa sakit yang dibawanya seolah menjadi bagian kecil dari perjalanan panjang yang akhirnya sampai pada garis akhir.

“Rasanya sakit sekali, tapi saya bilang sama diri sendiri, saya sudah berjuang dua tahun untuk gelar ini, tidak mungkin saya mundur hanya karena kaki keseleo. Ini hari bersejarah saya,” ujar Rafika penuh haru.

Kalimat itu menggambarkan pilihan yang diambil Rafika ketika keadaan tidak berjalan sesuai harapan. Bagi dirinya, wisuda bukan sekadar seremoni mengenakan toga dan menerima gelar akademik. Hari tersebut menjadi penanda bahwa perjuangan selama dua tahun akhirnya memperoleh hasil setelah melewati berbagai tuntutan kehidupan.

Rafika merupakan Aparatur Sipil Negara (ASN) yang sehari-hari mengabdi di Sekretariat Dewan (Setwan) DPR Papua Tengah. Di tengah tanggung jawab pekerjaan, ia memilih kembali menempuh pendidikan hingga jenjang Pascasarjana. Pilihan tersebut tentu menuntut kemampuan untuk membagi waktu antara pekerjaan, keluarga, perjalanan, dan kewajiban akademik.

Perjalanan pendidikan itu juga tidak berlangsung dalam ruang yang dekat dengan tempat tugasnya. Rafika harus menempuh perjalanan jarak jauh Nabire–Makassar untuk menjalani proses perkuliahan. Jarak tersebut menjadi bagian dari konsekuensi yang harus dijalani demi menyelesaikan pendidikan dan memperoleh gelar Magister Manajemen.

Bagi seorang ASN, pendidikan lanjutan bukan hanya berkaitan dengan pencapaian pribadi. Pendidikan juga menjadi bagian dari upaya meningkatkan kapasitas dan memperluas pengetahuan yang dapat mendukung pelaksanaan tugas. Karena itu, keputusan Rafika untuk melanjutkan pendidikan di tengah kesibukan pekerjaan menunjukkan adanya kemauan untuk terus belajar.

Perjalanan tersebut semakin kompleks karena Rafika tidak hanya menjalankan peran sebagai aparatur negara. Ia juga seorang istri dan ibu yang memiliki tanggung jawab keluarga. Waktu yang terbatas harus dibagi dengan berbagai kebutuhan, sementara proses pendidikan tetap menuntut konsistensi sampai tahap akhir.

“Ilmu dan gelar ini bisa saya raih karena ada pondasi yang kuat dari ibuku, Klarce Rumbrapuk. Ketiga anak saya—Jehan A. Syahabudin, Carli Sanata Dharma, Claudia Wika Griselda—serta saudara saya, Faisal Rizal M. Syahabudin, S.T., dan ipar saya, Yoke Septiana Sineri, adalah support system terbaik yang saya miliki,” ungkap Rafika penuh rasa syukur.

Pernyataan itu memperlihatkan bahwa keberhasilan akademik Rafika tidak ia tempatkan sebagai pencapaian seorang diri. Di balik gelar yang kini disandangnya, terdapat keluarga yang menjadi bagian penting dari perjalanan tersebut. Dukungan orang-orang terdekat menjadi kekuatan ketika pekerjaan, keluarga, perjalanan jauh, dan pendidikan harus dijalankan secara bersamaan.

Di tengah suasana wisuda, Rafika juga sempat berbagi curahan hati singkat dengan sesama wisudawan, Antonius M. Degei, S.Pd., M.M., Gr. Percakapan tersebut berkembang menjadi refleksi tentang arti pendidikan, perjuangan, serta tanggung jawab generasi yang memperoleh kesempatan untuk menempuh pendidikan tinggi.

Bagi Rafika, usia bukan alasan untuk menghentikan keinginan belajar. Perjalanan akademiknya justru memperlihatkan bahwa pendidikan dapat ditempuh ketika seseorang memiliki kemauan, ketekunan, serta dukungan dari lingkungan terdekat. Prinsip tersebut menjadi salah satu pesan yang ingin ia bagikan kepada perempuan lain yang masih mempertimbangkan untuk kembali ke bangku kuliah.

“Untuk teman-teman ASN perempuan di Papua, jangan pernah takut kuliah lagi. Umur bukan halangan, jarak bukan halangan,” pesannya.

Pesan itu menjadi bagian penting dari kisah Rafika. Ia tidak hanya membawa pulang gelar Magister Manajemen, tetapi juga pengalaman tentang bagaimana pendidikan harus diperjuangkan di tengah berbagai keterbatasan. Keseleo yang dialami seminggu sebelum wisuda bahkan menjadi gambaran kecil bahwa perjalanan menuju keberhasilan tidak selalu hadir dalam kondisi yang sempurna.

Kini, ASN berdarah Makassar-Biak tersebut resmi menyandang gelar Magister Manajemen. Pencapaian itu menjadi bagian dari perjalanan profesional sekaligus pribadi Rafika setelah menyelesaikan pendidikan selama dua tahun. Gelar tersebut lahir dari proses yang menuntut waktu, tenaga, perjalanan, dan keteguhan untuk tidak berhenti di tengah jalan.

Kisah Rafika juga memperlihatkan wajah lain perempuan Papua yang terus membuka ruang bagi pengembangan diri melalui pendidikan. Di tengah pekerjaan dan tanggung jawab keluarga, kesempatan belajar tetap diperjuangkan. Pendidikan tidak berhenti hanya karena usia bertambah atau jarak tempat tinggal dan kampus begitu jauh.

Namun, cerita tentang pendidikan tidak berhenti pada seseorang yang berhasil meraih gelar. Di balik setiap wisudawan, terdapat keluarga yang mendukung, orang tua yang berharap, serta proses panjang yang tidak selalu terlihat oleh orang lain. Karena itu, keberhasilan akademik semestinya juga dibaca sebagai hasil dari perjalanan bersama.

Bagi generasi muda Papua, kisah tersebut dapat menjadi pengingat bahwa kesempatan pendidikan memiliki nilai yang jauh lebih besar daripada sekadar memperoleh ijazah. Pendidikan membutuhkan kesungguhan, sebab di belakangnya sering terdapat perjuangan orang tua dan keluarga yang mengorbankan waktu, tenaga, serta penghasilan untuk memastikan anak-anaknya dapat terus belajar.

Dalam perbincangan yang sama, Antonius M. Degei, S.Pd., M.M., Gr., menyampaikan refleksi mengenai kondisi generasi muda Papua saat ini. Ia menekankan pentingnya menghargai perjuangan orang tua yang bekerja keras, termasuk mereka yang bertaruh keringat di pasar demi membiayai pendidikan anak-anaknya.

Antonius juga menyoroti fenomena anak muda dari pedalaman yang cita-citanya dapat terhambat karena persoalan asmara hingga melupakan tujuan utama menuntut ilmu. Menurutnya, masa pendidikan seharusnya digunakan untuk membangun kemampuan, memperluas wawasan, dan mempersiapkan masa depan.

Pesan tersebut bukan sekadar ajakan untuk belajar lebih keras. Ada tanggung jawab yang lebih besar bagi generasi muda Papua untuk memahami mengapa pendidikan diperjuangkan oleh keluarga. Ketika orang tua bekerja keras untuk membiayai sekolah dan kuliah, kesempatan tersebut seharusnya dijaga dengan kesungguhan dan tanggung jawab.

Antonius berpesan agar para pelajar dan mahasiswa tetap fokus pada pendidikan, terbuka kepada orang tua ketika menjalin hubungan, serta berani mengembangkan gagasan. Baginya, generasi muda Papua membutuhkan keberanian untuk mencoba, belajar dari kegagalan, dan menggunakan ruang yang tersedia untuk menyampaikan ide secara bertanggung jawab.

“Jangan bilang tidak bisa, karena tidak bisa itu artinya belum mencoba. Jika ada pandangan atau perasaan sebagai pelajar, tuangkanlah ide tersebut di media yang resmi,” pungkas Antonius.

Pada akhirnya, cerita Rafika dan refleksi Antonius bertemu pada satu titik yang sama: pendidikan membutuhkan keberanian untuk bertahan. Rafika memilih tetap berdiri di panggung wisuda meski kakinya keseleo, sementara pesan Antonius mengingatkan generasi muda agar tidak membiarkan alasan apa pun mematikan cita-cita.

Kaki Rafika mungkin sempat keseleo tujuh hari sebelum wisuda. Namun, langkahnya menuju gelar Magister Manajemen tidak berhenti. Dari perjalanan Nabire–Makassar hingga panggung wisuda di Hotel Dalton, perjuangan itu menjadi pengingat bahwa keberhasilan sering kali bukan tentang siapa yang tidak pernah mengalami kesulitan, melainkan siapa yang tetap memilih melangkah ketika kesulitan datang. [*].

)* Penulis adalah Antonius M. Degei, S.Pd., M.M., Gr., peserta wisudawan Universitas Kristen Indonesia Paulus Makassar, lulusan Sarjana Pendidikan dan Magister Manajemen serta Guru Profesional tersertifikasi.

Redaksi Tomei

Recent Posts

Panah Papua Soroti Hutan di PSN GOKPL, Kehutanan Minta Data Koordinat untuk Verifikasi

MANOKWARI, TOMEI.ID | Perkumpulan Panah Papua menyoroti dugaan dampak pembukaan kawasan hutan dalam kegiatan Proyek…

4 jam ago

Dinkes Papua Tengah Perkuat Layanan Penyakit Menular di Dogiyai, Kompetensi Petugas Puskesmas Ditingkatkan

DOGIYAI, TOMEI.ID | Dinas Kesehatan (Dinkes)Provinsi Papua Tengah, memperkuat pelayanan penyakit menular di Kabupaten Dogiyai…

4 jam ago

Pemprov Papua Tengah Dorong Pendidikan Inklusif, Layanan Disabilitas Diminta Berfungsi Nyata

NABIRE, TOMEI.ID | Pemerintah Provinsi (Pemprov) Papua Tengah, mendorong penguatan pendidikan inklusif agar Anak Berkebutuhan…

5 jam ago

TPNPB Klaim Tembak Sopir di Trans Wamena-Nduga, Korban Disebut Aris Sanda

WAMENA, TOMEI.ID | Kelompok yang menamakan diri Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat (TPNPB) mengklaim bertanggung…

10 jam ago

Deinas Geley Dorong Perluasan Bandara Nabire dan Pembangunan Terminal Papua Tengah

JAKARTA, TOMEI.ID | Wakil Gubernur Papua Tengah, Deinas Geley, mendorong pemerintah pusat mempercepat pengembangan infrastruktur…

11 jam ago

Terima 34 Motor dari Gubernur, Wim Joani: Bantu Ekonomi dan Buka Lapangan Usaha

INTAN JAYA, TOMEI.ID | Penerima bantuan sepeda motor dari Gubernur Papua Tengah, Meki Frit Nawipa,…

1 hari ago