Berita

Kekeringan Ekstrem Melanda Kuyawagi, HIPMI Papua Pegunungan Serukan Bantuan Kemanusiaan

WAMENA, TOMEI.ID | Kekeringan ekstrem melanda kawasan Kuyawagi dan sejumlah wilayah sekitarnya di Papua Pegunungan sejak Juni hingga September 2026, hingga memukul ketahanan pangan warga di berbagai kampung terdampak serius.

Kondisi tersebut berdampak terhadap tanaman, pepohonan, sumber pangan, hingga hewan ternak masyarakat di sejumlah distrik yang kini menghadapi ancaman kekurangan pangan dan kebutuhan hidup sehari-hari.

Wilayah terdampak meliputi Distrik Kuyawagi, Wano Barat, dan Goa Balim di Kabupaten Lanny Jaya, serta Distrik Nengeyagin dan Utpaga di Kabupaten Nduga. Selain itu, terdapat satu distrik di Kabupaten Puncak yang disebut turut terdampak bencana tersebut.

Kondisi kekeringan kali ini dinilai lebih parah dibandingkan kejadian serupa pada tahun-tahun sebelumnya. Kekeringan menyebabkan tanaman dan pepohonan mengering hingga mati, sementara dampaknya disebut meluas ke wilayah yang berada cukup jauh dari pusat bencana.

Melihat kondisi tersebut, Ketua Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) Papua Pegunungan, Antonius Wetipo, mengajak pemerintah, lembaga swadaya masyarakat (LSM), organisasi kemasyarakatan, serta berbagai elemen lainnya untuk bersama-sama memberikan bantuan kepada masyarakat terdampak.

Ajakan itu disampaikan Antonius setelah melihat dan mendengar secara langsung kondisi masyarakat di wilayah terdampak.

“Berapapun nilainya, nilai kemanusiaan adalah yang paling utama sehingga dapat kita salurkan atau berikan untuk saudara-saudara kita di sana,” ujar Antonius Wetipo, Selasa (8/9/2026).

Antonius mengatakan, persoalan yang dihadapi masyarakat tidak hanya terjadi selama masa kekeringan. Menurutnya, tantangan yang lebih berat dapat muncul pada masa pemulihan setelah bencana, terutama berkaitan dengan pangan dan kesehatan masyarakat.

“Sejauh ini memang belum ada laporan korban jiwa, namun ancaman kelaparan telah melanda. Bantuan penanganan kesehatan bagi warga sangat mendesak dibutuhkan, apalagi kematian pada hewan ternak juga sudah mulai terjadi,” ungkap Antonius.

Ia memperkirakan dampak kekeringan dapat membutuhkan waktu panjang untuk dipulihkan. Karena itu, penanganan terhadap masyarakat terdampak dinilai tidak cukup dilakukan melalui bantuan darurat, tetapi perlu dilanjutkan dengan dukungan pemulihan hingga masyarakat kembali mampu memenuhi kebutuhan hidup secara mandiri.

Selain bahan makanan (bama), masyarakat juga membutuhkan dukungan untuk kembali bercocok tanam. Bantuan yang diperlukan antara lain bibit bayam, bibit ubi, serta berbagai benih tanaman lainnya yang dapat digunakan untuk memulihkan sumber pangan masyarakat.

Kebutuhan tersebut dinilai penting karena kekeringan telah berdampak langsung terhadap tanaman masyarakat. Dukungan bibit diharapkan dapat membantu warga memulai kembali aktivitas pertanian setelah kondisi memungkinkan.

Antonius juga meminta perhatian berkelanjutan dari pemerintah daerah, baik Pemerintah Provinsi Papua Pegunungan, Pemerintah Kabupaten Lanny Jaya, Pemerintah Kabupaten Nduga, Pemerintah Kabupaten Puncak, maupun Pemerintah Provinsi Papua Tengah, bersama seluruh elemen masyarakat.

Di tengah kondisi tersebut, Antonius menyampaikan apresiasi kepada pemerintah daerah, kelompok masyarakat, dan berbagai organisasi yang telah bergerak menyalurkan bantuan awal ke wilayah terdampak.

Menurutnya, bantuan awal tersebut menjadi langkah penting, tetapi penanganan masyarakat terdampak membutuhkan dukungan yang berkelanjutan agar kebutuhan pangan, kesehatan, dan pemulihan mata pencaharian dapat ditangani secara bertahap. [*].

Redaksi Tomei

Recent Posts

Jembatan Gantung Sungai Minabu Mulai Terwujud, Warga Pugisiga Apresiasi Pemkab Intan Jaya

INTAN JAYA, TOMEI.ID | Pembangunan jembatan gantung di Sungai Minabu yang menghubungkan Kampung Pugisiga dan…

2 jam ago

PASTI Kukuhkan Pengurus DPW dan DPC di Delapan Kabupaten Papua Tengah

NABIRE, TOMEI.ID | Dewan Pimpinan Pusat Partai Setara Indonesia (DPP PASTI) mengukuhkan kepengurusan Dewan Pimpinan…

2 jam ago

Dari Tapak ke KTT Hukum Rakyat 2026, Empat Regio Bawa Suara Tanah, Hutan dan Wilayah Adat

JAKARTA, TOMEI.ID | Persoalan penguasaan tanah, konflik tenurial, tekanan industri ekstraktif, hingga perjuangan mempertahankan wilayah…

5 jam ago

FGD PHA Digelar, Pemprov Papua Tengah Perkuat Regulasi Perlindungan Anak di Nabire

NABIRE, TOMEI.ID | Pemerintah Provinsi (Pemprov) Papua Tengah mendorong penguatan kebijakan dan regulasi daerah terkait…

11 jam ago

KLB Campak Jadi Perhatian, Sidey Perkuat Persiapan Imunisasi ORI

MANOKWARI, TOMEI.ID | Pemerintah Distrik Sidey bersama Dinas Kesehatan Kabupaten Manokwari dan Puskesmas Sidey memperkuat…

11 jam ago

Polda Papua Tengah Musnahkan 4,7 Gram Sabu, Pengembangan Ungkap Narapidana Lapas Nabire

NABIRE, TOMEI.ID | Polda Papua Tengah memusnahkan barang bukti narkotika jenis sabu seberat 4,7 gram…

11 jam ago