Berita

Mama Papua di Jayapura Pertanyakan Peran Aparat dalam Aksi Darurat Kemanusiaan

JAYAPURA, TOMEI.ID | Gelombang suara lantang dan penuh tekanan dari mama-mama Papua mewarnai aksi unjuk rasa bertajuk darurat militer dan pelanggaran hak asasi manusia yang digelar di Kota Jayapura, Senin (27/4/2026).

Aksi berlangsung di kawasan Abepura di bawah terik matahari dengan pengawalan aparat keamanan yang ketat, terukur, dan penuh kewaspadaan di tengah potensi eskalasi situasi massa di lapangan.

Aksi yang digerakkan oleh mahasiswa Papua ini turut melibatkan berbagai elemen masyarakat, termasuk perempuan Papua yang ikut menyuarakan aspirasi secara langsung di tengah berlangsungnya aksi di lapangan.

Dalam kesempatan tersebut, seorang perwakilan perempuan maju ke depan dan mengambil megafon untuk menyampaikan orasi dengan penuh emosi di hadapan massa aksi.

“Kenapa hari ini kita berdiri di tempat ini, di bawah matahari yang panas? Karena ada alasan. Kami datang untuk mencari keadilan, tapi kami terus dihalangi,” ujarnya yang disambut sorakan massa.

Ia kemudian menyinggung peran aparat keamanan yang dinilai membatasi ruang demokrasi di Tanah Papua secara sistematis, berulang, dan berdampak luas terhadap kebebasan berekspresi masyarakat sipil.

“Kamu pembunuh demokrasi di atas tanah Papua ini. Kalau memang keras, lebih baik tidak usah ada negara di atas tanah ini yang terus menindas, membungkam, dan mengabaikan suara rakyat secara berulang,” tegasnya.

Pernyataan tersebut memicu respons massa yang meneriakkan dukungan secara serempak di lokasi aksi dengan penuh emosi, solidaritas, dan tekanan yang semakin menguat di tengah situasi lapangan.

Dalam orasinya, ia juga mempertanyakan berbagai kasus kekerasan yang terjadi di sejumlah wilayah Papua seperti Puncak, Nduga, Puncak Jaya, dan Dogiyai yang terus berulang, kompleks, dan menimbulkan keresahan luas masyarakat sipil.

“Siapa pelaku di semua ini? Saya tanya, bapak-bapak aparat TNI-Polri tahu atau tidak secara jujur, transparan, dan bertanggung jawab terhadap seluruh rangkaian peristiwa di lapangan yang terus terjadi berulang?” ucapnya.

Ia juga menolak berbagai stigma terhadap kelompok tertentu dan meminta agar penanganan kasus dilakukan secara adil serta transparan tanpa kepentingan pihak tertentu, tekanan politik, maupun intervensi yang tidak sah di lapangan.

“Ada Komnas HAM, harusnya mereka bertanggung jawab. Jangan karena kepentingan, rakyat jadi korban yang terus terabaikan, termarjinalkan, dan kehilangan perlindungan hukum secara adil di tanah sendiri,” katanya.

Perempuan tersebut menegaskan bahwa dirinya berbicara atas nama perempuan Papua yang hidup dan membesarkan generasi di tanah tersebut dengan penuh tanggung jawab, keberanian, serta harapan akan masa depan yang lebih adil.

“Saya berdiri di sini atas nama perempuan Papua. Kami punya anak, punya masyarakat. Siapa yang bunuh? Tidak ada alasan jelas,” ujarnya.

Di akhir orasi, ia meminta agar persoalan kemanusiaan di Papua segera diselesaikan secara serius dan tidak dibiarkan berlarut-larut tanpa kepastian hukum, keadilan, serta perlindungan nyata bagi masyarakat sipil terdampak konflik.

“Kami minta masalah ini diselesaikan. TNI-Polri segera angkat kaki dari Tanah Papua demi pemulihan keamanan, keadilan, kemanusiaan, serta penghormatan terhadap hak hidup masyarakat adat secara bermartabat,” tutupnya.

Aksi tersebut berlangsung dengan pengawalan aparat keamanan, sementara massa terus menyuarakan tuntutan mereka secara bergantian hingga kegiatan berakhir dengan situasi relatif terkendali meski ketegangan masih terasa di lapangan. [*].

Redaksi Tomei

Recent Posts

Intelektual Dogiyai Minta Polres Kedepankan Prosedur dan Pendekatan Humanis dalam Sweeping di Mauwa

DOGIYAI, TOMEI.ID | Intelektual Dogiyai, Fransiskus Yobee, meminta Kepolisian Resor (Polres) Dogiyai mengedepankan prosedur hukum,…

13 jam ago

Puskesmas Warmare Capai Imunisasi 95 Persen, Edukasi Bahasa Daerah Sasar Warga di Tengah KLB Campak

MANOKWARI, TOMEI.ID | Puskesmas Warmare mengintensifkan pelayanan imunisasi campak-rubela di tengah upaya penanggulangan kejadian luar…

13 jam ago

Libatkan 1.200 Pemuda, Baptis Cup 2026 Jadi Ajang Persatuan Lintas Gereja di Papua Pegunungan

WAMENA, TOMEI.ID | Sebanyak 1.200 pemuda terlibat dalam Turnamen Sepak Bola Pemuda Baptis Cup 2026…

13 jam ago

Fredi Bunai Dorong Barista Muda Angkat Kopi Lokal Papua Tengah ke Pasar Dunia

NABIRE, TOMEI.ID | Pelatihan barista bagi Orang Asli Papua (OAP) di Provinsi Papua Tengah diharapkan…

22 jam ago

Papua Tengah Catat Kesenjangan 30.941 Peserta Jaminan Sosial, 74 OAP Disiapkan Ikuti Pelatihan Kerja

NABIRE, TOMEI.ID | Pemerintah Provinsi (Pemprov) Papua Tengah memperluas perlindungan jaminan sosial ketenagakerjaan dan meningkatkan…

22 jam ago

Meki Nawipa: Pendataan Akurat Jadi Kunci Tekan Pengangguran OAP di Papua Tengah

NABIRE, TOMEI.ID | Gubernur Papua Tengah, Meki Nawipa, menegaskan pentingnya pendataan yang akurat untuk mengidentifikasi…

22 jam ago