NABIRE, TOMEI.ID | Ketua Umum Dewan Kesenian Provinsi Papua Tengah (DKPT), Nofit Nawipa, menegaskan bahwa rambut gimbal dan kribo tidak boleh dijadikan dasar untuk memberikan stigma kriminal kepada seseorang.
Menurutnya, karakteristik rambut tersebut merupakan bagian dari ekspresi identitas dan kebudayaan orang Papua yang harus dihormati, bukan dipandang melalui prasangka negatif.
Pernyataan itu disampaikan Nofit saat menyatakan dukungan terhadap pelaksanaan Papua Reggae Festival (PRF) XI bertema Culture & Art atau Budaya dan Seni, yang dijadwalkan berlangsung pada 16-17 Oktober 2026 di Area Bandara Lama Nabire, Papua Tengah.
Ia menilai festival tersebut menjadi ruang penting untuk memperkuat identitas budaya, membangun persaudaraan, serta memberikan ruang ekspresi bagi generasi muda Papua.
“Ini adalah tempat bagi kita sebagai orang Papua untuk melepaskan segala beban pikiran dan tekanan dari mana pun, lalu berpadu dalam satu irama reggae yang mengangkat nilai identitas budaya. Gimbal dan kribo bukan berarti kriminal, tetapi itu adalah identitas, rambut keriting, sa Papua,” tegas Nofit kepada tomei.id melalui sambungan telepon seluler, Kamis (15/10/2026).
Menurut Nofit, Papua Reggae Festival tidak semestinya dipandang sebatas pertunjukan musik atau hiburan. Lebih dari itu, kegiatan tersebut dapat menjadi wadah untuk menyuarakan identitas, merawat warisan budaya, mempererat hubungan sosial, dan mendorong generasi muda menyalurkan kreativitas melalui seni.
Culture & Art, Ruang Merawat Identitas Budaya Papua
Nofit menjelaskan, tema Culture & Art memiliki makna strategis bagi keberlangsungan seni dan kebudayaan Papua. Melalui panggung festival, nilai-nilai budaya diharapkan tidak berhenti sebagai simbol atau pertunjukan sesaat, tetapi terus hidup dan diwariskan kepada generasi penerus.
“Tema yang diusung penuh makna yang mendalam, Culture and Art. Melalui pentas seni festival reggae, kita terus mempertahankan identitas budaya dan mewariskannya kepada generasi penerus,” ujarnya.
Ia juga mengapresiasi Komunitas Rasta Kribo Papua (KORK) yang dinilainya berkontribusi dalam mengembangkan kreativitas seni sekaligus membangun kedekatan dengan masyarakat di Nabire.
Menurut Nofit, komunitas seni memiliki peran yang lebih luas daripada sekadar menyelenggarakan pertunjukan. Komunitas dapat menjadi ruang perjumpaan lintas kelompok, memperkuat solidaritas sosial, dan membuka kesempatan bagi masyarakat untuk terlibat dalam kegiatan kebudayaan secara bersama-sama.
Mama-Mama dan UMKM Harus Mendapat Ruang
Nofit menegaskan, keberhasilan sebuah festival tidak cukup diukur dari kemeriahan panggung, penampilan musisi, atau banyaknya pengunjung. Manfaat nyata bagi masyarakat, termasuk terbukanya peluang ekonomi bagi pelaku usaha lokal, juga perlu menjadi bagian dari keberhasilan penyelenggaraan.
Ia secara khusus menyoroti keterlibatan mama-mama penjual noken, mama-mama penjual pinang, serta pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang menjadi bagian dari kehidupan ekonomi masyarakat Papua.
“Seni tidak bisa terpisah dari realitas hidup sosial masyarakat. KORK telah menunjukkan kedekatannya dengan masyarakat luas, terutama mama-mama noken, mama-mama pinang, dan para pelaku UMKM,” ungkapnya.
Menurutnya, Papua Reggae Festival XI berpotensi menjadi ruang promosi bagi produk lokal sekaligus membuka peluang pendapatan bagi masyarakat.
Karena itu, keterlibatan pelaku usaha perlu diperhatikan agar kegiatan seni tidak hanya dinikmati penonton, tetapi juga memberikan manfaat ekonomi bagi warga yang berada di sekitar lokasi festival.
Ia berharap penyelenggaraan festival dapat mendorong pertumbuhan ekonomi kreatif, memperluas kesempatan usaha, dan memperkuat hubungan antara komunitas seni dengan masyarakat setempat.
Nabire Diharapkan Menjadi Contoh bagi Tanah Papua
Nofit mengajak pemerintah daerah, masyarakat, pelaku usaha, komunitas seni, dan generasi muda untuk bersama-sama mendukung pelaksanaan Papua Reggae Festival XI.
Ia menilai dukungan berbagai pihak diperlukan agar kegiatan tersebut berlangsung aman, tertib, bersih, dan memberikan kesan positif bagi pengunjung.
“Kita provinsi yang baru dan baru pertama kali melakukan festival reggae ini. Untuk itu, kita harus menjaga keamanan dan ketertiban bersama serta kebersihan agar dari ibu kota Papua Tengah, dari Kota Nabire, kita bisa menjadi contoh bagi Tanah Papua, bahkan bagi daerah di luar Papua,” ujarnya.
Ia berharap festival tersebut menjadi momentum untuk memperkenalkan kekayaan seni dan budaya Papua Tengah kepada masyarakat yang lebih luas.
Selain itu, kegiatan ini diharapkan memperkuat ruang kreativitas generasi muda, membangun persaudaraan, serta menumbuhkan kebanggaan terhadap identitas budaya Papua.
Papua Reggae Festival XI dijadwalkan berlangsung selama dua hari, pada 16–17 Oktober 2026, di Area Bandara Lama Nabire. Dukungan DKPT diharapkan turut memperkuat pengembangan seni dan budaya sekaligus mendorong keterlibatan masyarakat dalam kegiatan ekonomi kreatif.
Lebih dari sekadar perhelatan musik, Papua Reggae Festival XI diharapkan menjadi ruang ekspresi yang menghargai identitas orang Papua, menolak prasangka berdasarkan penampilan, membuka peluang bagi pelaku usaha lokal, dan mempererat kebersamaan masyarakat di Papua Tengah. [*]










