Petani Kopi Perempuan Puncak Jaya Minta Pemerintah Lanjutkan Pendampingan Kebun

oleh -1121 Dilihat

PUNCAK JAYA, TOMEI.ID | Pelatihan budidaya kopi berkelanjutan dan pascapanen yang digelar Pemerintah Provinsi Papua Tengah membuka harapan baru bagi petani kopi di Kabupaten Puncak Jaya. Namun, para petani berharap program tersebut tidak berhenti setelah pelatihan, melainkan dilanjutkan dengan pendampingan dan pemantauan kebun secara berkelanjutan.

Harapan itu disampaikan perwakilan petani kopi perempuan asal Kabupaten Puncak Jaya, Terena Tabuni, saat mengikuti pelatihan budidaya kopi berkelanjutan dan penanganan pascapanen yang diselenggarakan Pemerintah Provinsi Papua Tengah melalui Dinas Perkebunan dan Peternakan bekerja sama dengan Asosiasi Kopi Indonesia (SCOPI).

banner 728x90

Kegiatan tersebut berlangsung di lokasi perkebunan kopi milik Yutimus Wonda, Kampung Trikora, Distrik Mulia, Kabupaten Puncak Jaya, Papua Tengah.

Terena, yang merupakan petani kopi asal Kampung Muara, Distrik Muara, mengatakan pelatihan tersebut memberikan pengetahuan baru bagi masyarakat, khususnya mama-mama Papua yang selama ini telah mengembangkan tanaman kopi secara mandiri.

Menurutnya, potensi perkebunan kopi di sejumlah wilayah Puncak Jaya sebenarnya telah lama dimiliki masyarakat. Namun, pengembangannya belum berjalan maksimal karena keterbatasan pembinaan, pendampingan, dan perhatian secara berkelanjutan.

Ia mengapresiasi langkah Pemerintah Provinsi Papua Tengah yang mulai memberikan perhatian terhadap para petani kopi melalui pelatihan langsung di lapangan.

Terena menyampaikan terima kasih kepada Pemerintah Provinsi Papua Tengah di bawah kepemimpinan Gubernur Meki Frits Nawipa dan Wakil Gubernur Deinas Geley, serta Dinas Perkebunan dan Peternakan yang telah menghadirkan program pelatihan bagi masyarakat.

“Terima kasih banyak. Ini pertama kali kami didatangi untuk diberikan materi seperti ini. Di sini banyak petani kopi, baik mama-mama maupun bapak-bapak yang memiliki kebun kopi. Mungkin di balik gunung sana juga masih banyak kebun kopi masyarakat,” ujar Terena dalam keterangan kepada tome.id di Puncak Jaya, Sabtu (7/11/2026)

Menurut Terena, masyarakat di sejumlah kampung telah lama menanam dan memelihara kopi. Namun, tanpa pembinaan yang cukup, banyak kebun belum dapat dikembangkan secara optimal.

Ia menuturkan, pendataan petani kopi yang mulai dilakukan pemerintah sejak tahun sebelumnya menjadi salah satu langkah penting untuk mengetahui keberadaan kebun dan petani kopi di daerah tersebut.

Melalui pendataan tersebut, kata dia, masyarakat kemudian memperoleh kesempatan untuk terlibat dalam kegiatan pembinaan dan pelatihan.

“Memang kami sudah lama berkebun kopi, tetapi karena kurang perhatian, akhirnya kebun kami tidak berkembang seperti yang diharapkan. Setelah pemerintah datang mengambil data, kami bisa ikut dalam kegiatan seperti ini,” katanya.

Terena berharap perhatian pemerintah terhadap komoditas kopi tidak hanya berhenti pada pelaksanaan pelatihan. Menurutnya, para petani membutuhkan pendampingan secara langsung agar pengetahuan yang diperoleh dapat diterapkan secara konsisten di kebun masing-masing.

Ia juga berharap Pemerintah Provinsi Papua Tengah dan Pemerintah Kabupaten Puncak Jaya dapat membangun kerja sama yang lebih kuat dalam mendampingi para petani kopi, baik petani perempuan maupun laki-laki.

Terena meminta pemerintah melakukan kunjungan dan pemantauan secara berkala untuk melihat perkembangan kebun kopi masyarakat.

Menurutnya, pendampingan berkelanjutan penting untuk membantu petani menerapkan teknik budidaya yang baik, mulai dari penanaman, pemeliharaan, hingga proses panen dan penanganan hasil produksi.

“Kami minta pemerintah provinsi dan pemerintah Kabupaten Puncak Jaya harus bekerja sama dengan kami, petani kopi mama-mama maupun bapak-bapak yang mempunyai kebun. Setiap tahun harus ada kontrol supaya kebun kopi kami yang ada di luar sana bisa berkembang dan masyarakat juga mendapat perhatian,” ujarnya.

Ia menilai pelatihan budidaya kopi berkelanjutan dan pascapanen yang diberikan kepada petani dapat menjadi langkah awal dalam memperkuat pengembangan komoditas kopi di Kabupaten Puncak Jaya.

Namun, menurut Terena, keberhasilan pengembangan kopi sangat bergantung pada kesinambungan program, terutama pendampingan kepada petani setelah pelatihan selesai dilaksanakan.

Dengan pendampingan yang berkelanjutan, para petani diharapkan dapat meningkatkan pengetahuan dan kemampuan dalam mengelola kebun serta memperbaiki kualitas hasil produksi kopi.

Terena berharap potensi perkebunan kopi yang dimiliki masyarakat di berbagai wilayah Kabupaten Puncak Jaya dapat dikembangkan secara lebih serius dan memberikan manfaat bagi peningkatan kesejahteraan keluarga petani.

Ia pun menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah mendukung pelaksanaan pelatihan tersebut.

“Terima kasih kepada semua pihak yang sudah datang memberikan perhatian kepada kami. Kami berharap kerja sama dan pendampingan ini terus berlanjut. Tuhan Yesus memberkati,” bebernya. [*]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.