TPNPB Klaim 10 Warga Sipil Ditembak di Yahukimo, Enam Disebut Luka Tembak

oleh -1173 Dilihat

YAHUKIMO, TOMEI.ID | Manajemen Markas Pusat KOMNAS TPNPB mengklaim 10 warga sipil yang disebut sebagai pendulang emas menjadi korban penembakan aparat militer Indonesia di Kampung Samboga, Distrik Seredala, Kabupaten Yahukimo, Papua Pegunungan, Jumat (18/9/2026).

Enam orang di antaranya disebut mengalami luka tembak serius pada bagian tubuh dan membutuhkan penanganan medis segera akibat kondisi yang dilaporkan cukup berat, sehingga proses evakuasi dinilai mendesak untuk mencegah kondisi korban semakin memburuk.

banner 728x90

Klaim tersebut disampaikan Manajemen Markas Pusat KOMNAS TPNPB melalui siaran pers tertanggal Senin (21/9/2026) yang disampaikan Juru Bicara TPNPB-OPM, Sebby Sambom.

Dalam laporan tersebut, TPNPB menyebut para korban sedang keluar dari lokasi pendulangan emas menuju Kampung Samboga ketika insiden penembakan terjadi.

Manajemen Markas Pusat KOMNAS TPNPB menyatakan telah menerima laporan dari PIS TPNPB Yahukimo mengenai dugaan penembakan terhadap 10 warga sipil di Kampung Samboga pada Jumat (18/9/2026), sekitar tengah malam.

Para korban disebut sedang bergerak dari tempat pendulangan emas menuju Kampung Samboga sebelum kemudian mengalami penembakan.

Menurut laporan yang diterima PIS TPNPB, para korban disebut telah dipantau aparat militer Indonesia menggunakan drone ketika keluar dari lokasi pendulangan emas menuju Kampung Samboga. Aparat kemudian disebut bersiaga di jalan umum yang menjadi jalur para korban sebelum memasuki kawasan kampung.

TPNPB selanjutnya mengklaim seluruh korban langsung ditembak ketika memasuki Kampung Samboga tanpa didahului tembakan peringatan.

Dalam laporan tersebut, enam korban laki-laki yang disebut mengalami luka tembak masing-masing bernama Yonas Aje (22), Pilatus Porpom (25), Daniel Timuka (19), Kani Borpom (20), Yanus Patika (28), dan Elli Timuka (28).

TPNPB menyatakan keenam korban mengalami luka tembak pada bagian tubuh dengan kondisi serius. Organisasi tersebut juga menyebut masih terdapat empat korban lainnya dari total 10 orang yang dilaporkan menjadi sasaran penembakan, tetapi identitas mereka tidak dicantumkan dalam siaran pers.

Manajemen Markas Pusat KOMNAS TPNPB juga melaporkan bahwa sejak 18 hingga 21 September 2026, para korban disebut belum dievakuasi oleh pihak gereja maupun lembaga-lembaga kemanusiaan di Yahukimo. TPNPB menyebut lokasi kejadian masih berada dalam penguasaan aparat militer Indonesia sehingga akses terhadap para korban disebut terbatas.

Atas kondisi tersebut, Manajemen Markas Pusat KOMNAS TPNPB meminta Presiden Prabowo Subianto, Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin, dan Panglima TNI Agus Subiyanto membuka akses bagi tim kemanusiaan untuk memasuki lokasi dan mengevakuasi para korban ke rumah sakit guna mendapatkan penanganan medis.

PIS TPNPB, menurut siaran pers tersebut, juga menyebut terdapat banyak korban yang mengalami luka tembak. Namun, pihaknya mengaku tidak dapat mengambil dokumentasi foto maupun video dari lokasi karena kawasan tersebut masih disebut berada dalam penguasaan aparat militer Indonesia.

Dalam laporan yang sama, TPNPB menyampaikan dugaan bahwa para korban telah ditembak sejak 18 September 2026 dan hingga 21 September belum mendapatkan evakuasi. TPNPB kemudian menduga adanya kemungkinan jenazah korban disembunyikan untuk menghilangkan barang bukti.

Dugaan tersebut merupakan pernyataan PIS TPNPB dan belum disertai dokumentasi yang dapat diperiksa secara independen.

Manajemen Markas Pusat KOMNAS TPNPB selanjutnya menegaskan penolakan terhadap tindakan penembakan yang mereka klaim terjadi terhadap warga sipil di Tanah Papua. TPNPB juga meminta pemerintah pusat mengambil tanggung jawab atas laporan tersebut serta membuka akses bagi proses evakuasi dan pemeriksaan kondisi para korban.

TPNPB juga menyatakan bahwa dalam insiden tersebut tidak terjadi kontak senjata antara aparat militer Indonesia dan pasukan TPNPB Kodap XVI Yahukimo. Menurut organisasi tersebut, penembakan dilakukan secara sepihak terhadap warga yang mereka klaim sebagai pendulang emas dan warga sipil.

Redaksi tomei menempatkan seluruh tuduhan mengenai pelaku, kronologi penembakan, kondisi korban, penggunaan drone, serta dugaan penyembunyian jenazah sebagai klaim pihak TPNPB sampai terdapat keterangan dan bukti dari pihak lain yang dapat mengonfirmasi peristiwa tersebut.

Di sisi lain, situasi keamanan Yahukimo pada periode yang sama memang dilaporkan mengalami sejumlah gangguan. Satgas Operasi Damai Cartenz bersama Polres Yahukimo pada 19 September 2026 menyatakan sedang menangani penikaman seorang warga dan pembakaran sebuah warung di Distrik Dekai yang terjadi pada 17–18 September.

Dalam laporan tersebut, aparat menyatakan telah melakukan olah tempat kejadian perkara dan memeriksa korban serta saksi. Namun, peristiwa yang ditangani aparat tersebut terjadi di Distrik Dekai dan bukan merupakan konfirmasi terhadap klaim penembakan di Kampung Samboga yang disampaikan TPNPB.

Siaran pers tersebut ditandatangani oleh Juru Bicara TPNPB-OPM Sebby Sambom serta jajaran pimpinan TPNPB-OPM, di antaranya Panglima Tinggi TPNPB-OPM Jenderal Goliath Tabuni, Wakil Panglima Letnan Jenderal Melkisedek Awom, Kepala Staf Umum Mayor Jenderal Terianus Satto, dan Komandan Operasi Umum Mayor Jenderal Lekagak Telenggen.

Hingga berita ini disusun, laporan mengenai 10 warga sipil yang disebut ditembak di Kampung Samboga masih memerlukan pemeriksaan lapangan, termasuk kepastian jumlah korban, kondisi keenam korban yang disebut mengalami luka tembak, keberadaan empat korban lainnya, serta proses evakuasi dari lokasi kejadian.

Dengan demikian, tim redaksi tomei.id membuka ruang klarifikasi dan hak jawab seluas-luasnya bagi seluruh pihak yang disebut maupun berkepentingan terhadap pemberitaan ini, demi menjaga akurasi, keberimbangan, dan prinsip jurnalistik yang profesional. [*].

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.