Uncen Gelar Asesmen Lapangan Prodi Spesialis Anestesi, Jawab Kekurangan Tenaga Kesehatan di Papua

oleh -1066 Dilihat
Ketua Kolegium Anestesi Indonesia sekaligus asesor Kemendikti Saintek, Dr. dr. Reza Widianto Sudjud, Sp.An-TI, Subsp.An KV (K), Subsp.TI (K), M.Kes, memberikan keterangan kepada awak media usai pelaksanaan asesmen lapangan pembukaan Program Studi Pendidikan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif FK Universitas Cenderawasih di Jayapura. [Foto: Yeremias/tomei.id].

JAYAPURA, TOMEI.ID | Universitas Cenderawasih (Uncen) menggelar asesmen lapangan pembukaan Program Studi Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) Anestesiologi dan Terapi Intensif sebagai langkah strategis menjawab keterbatasan tenaga dokter spesialis anestesi di Tanah Papua.

Asesmen lapangan berlangsung di Rektorat Universitas Cenderawasih, Kampus Waena, Kota Jayapura, Rabu (4/2/2026), dan dilaksanakan oleh dua asesor dari Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendikti Saintek), yakni Ketua Kolegium Anestesi Indonesia Dr. dr. Reza Widianto Sudjud, Sp.An-TI, Subsp.TI (K), M.Kes, bersama Dr. dr. Hamzah, Sp.An-TI, Subsp.TI (K).

banner 728x90

baca juga: Pembukaan Prodi Spesialis Anestesi FK Uncen, Komisi V DPR Papua Harap Jawab Masalah Kesehatan Papua

Program Studi Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif ini akan menjadi Program Pendidikan Dokter Spesialis pertama berbasis universitas di Papua, yang diharapkan mampu memperkuat pelayanan kesehatan, khususnya di rumah sakit rujukan dan wilayah terpencil.

Ketua Kolegium Anestesi Indonesia Dr. dr. Reza Widianto Sudjud menegaskan bahwa pembukaan Prodi Spesialis Anestesi di Uncen telah mendapat persetujuan prinsip dari Kemendikti dan didukung penuh oleh kolegium.

baca juga: FK Uncen Jalani Asesmen PPDS Anestesi, Pemprov Papua Tegaskan Penting bagi Generasi Penerus

“Kami dari Kemendikti dan Kolegium Anestesi Indonesia sangat mendukung pembukaan Program Studi Spesialis Anestesi di Universitas Cenderawasih. Ini adalah yang pertama di Papua dan sudah disetujui secara prinsip untuk didirikan,” ujar Dr. Reza.

Menurut Dr. Reza Widianto Sudjud, kehadiran program ini akan memberikan dampak nyata bagi peningkatan layanan kesehatan masyarakat Papua, karena dokter-dokter yang selama ini bertugas di Papua dapat melanjutkan pendidikan spesialis tanpa harus ke luar daerah.

baca juga: FK Uncen Buka Prodi Spesialis Pertama di Papua, Anestesiologi Jalani Asesmen Lapangan

“Dampak paling utama adalah masyarakat Papua. Dokter-dokter yang bertugas di Papua dapat menempuh pendidikan spesialis anestesi di daerah sendiri, sehingga masyarakat memperoleh layanan anestesi yang lebih baik dan merata,” katanya.

Terkait kepastian pembukaan, Dr. Reza memastikan Prodi Spesialis Anestesi FK Uncen sudah dapat dibuka pada tahun ini.

“Tahun ini program sudah bisa dibuka. Saat ini tinggal menunggu proses administratif dan penerbitan surat keputusan dari Kemendikti. Arahan pemerintah pusat jelas, bukan lagi soal dibuka atau tidak, tetapi bagaimana program ini dijalankan dengan kualitas terbaik,” tegasnya.

Sambutan Rektor Universitas Cenderawasih, Prof. Dr. Oscar Oswald O. Wambrauw, S.E., M.Sc., disampaikan oleh Wakil Rektor I Dr. Dirk Y.P. Runtuboy, S.Pd., M.Kes. Dalam sambutannya, pihak universitas menyampaikan apresiasi atas kehadiran para asesor dan menegaskan komitmen Uncen dalam pengembangan pendidikan kesehatan di Papua.

“Universitas Cenderawasih sejak berdiri pada 10 November 1962 mengemban dua misi utama, yakni misi kebangsaan untuk menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia dan misi kemanusiaan untuk membuka akses pendidikan tinggi bagi putra-putri Papua,” ujarnya.

Saat ini, Universitas Cenderawasih memiliki sembilan fakultas dan satu program pascasarjana dengan total 92 program studi. Fakultas Kedokteran Uncen sendiri berdiri sejak 2002 dan telah meluluskan sekitar 1.300 dokter umum yang sebagian besar mengabdi di wilayah Papua.

Pembukaan Prodi Spesialis Anestesi dinilai sangat mendesak mengingat masih minimnya jumlah dokter anestesi di berbagai wilayah Papua, terutama daerah pedalaman dan terpencil. Lulusan program ini diharapkan tidak hanya bertugas di kota besar, tetapi juga siap mengabdi di wilayah gunung, lembah, pesisir, dan pulau-pulau.

Sebagai gambaran kebutuhan riil, sebaran dokter anestesi di Tanah Papua hingga kini masih sangat terbatas. Di Provinsi Papua, dokter anestesi tercatat berada di Kota Jayapura sebanyak 10 orang, Kabupaten Jayapura 1 orang, Kabupaten Biak Numfor 1 orang, dan Kepulauan Yapen 2 orang, sementara Kabupaten Supiori, Waropen, Keerom, Sarmi, dan Mamberamo Raya belum memiliki dokter anestesi.

Di Provinsi Papua Pegunungan, dokter anestesi hanya terdapat di Kabupaten Jayawijaya sebanyak 2 orang, Kabupaten Yahukimo 1 orang, dan Kabupaten Pegunungan Bintang 1 orang. Adapun Kabupaten Lanny Jaya, Nduga, Tolikara, Yalimo, dan Mamberamo Tengah masih kosong tanpa tenaga anestesi.

Untuk Provinsi Papua Tengah, dokter anestesi berada di Kabupaten Paniai 1 orang, Nabire 1 orang, dan Mimika 4 orang, sementara Kabupaten Dogiyai, Deiyai, Intan Jaya, Puncak, dan Puncak Jaya belum memiliki dokter anestesi. Di Provinsi Papua Selatan, dokter anestesi tercatat berada di Merauke sebanyak 3 orang, Boven Digoel 1 orang, Asmat 1 orang, dan Mappi 1 orang.

Kondisi ketimpangan tersebut menegaskan urgensi pembukaan Program Studi Pendidikan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif di Universitas Cenderawasih sebagai solusi strategis untuk pemerataan tenaga kesehatan dan peningkatan layanan medis di seluruh wilayah Papua. [*].

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.