HIV/AIDS Masih Endemi di Papua Tengah, Kesenjangan Pengobatan Jadi Tantangan Serius

oleh -1034 Dilihat
Infografis Pencegahan dan Pengendalian HIV/AIDS Dinas Kesehatan Provinsi Papua Tengah Tahun 2025 yang menampilkan data kumulatif kasus HIV/AIDS, cakupan pengobatan ARV, pemeriksaan viral load, koinfeksi HIV–TBC, serta capaian tes HIV pada ibu hamil di Papua Tengah. [Foto: Dok is/tomei.id].

NABIRE, TOMEI.ID | HIV/AIDS di Provinsi Papua Tengah masih menjadi masalah kesehatan masyarakat yang serius dan bersifat endemi. Berdasarkan infografis Pencegahan dan Pengendalian HIV/AIDS Dinas Kesehatan Provinsi Papua Tengah Tahun 2025, tercatat 24.777 kasus kumulatif HIV/AIDS sejak pertama kali ditemukan pada 1998 hingga Desember 2025.

Meski penemuan kasus terus meningkat dari tahun ke tahun, tantangan utama pengendalian HIV/AIDS di Papua Tengah saat ini bukan semata pada deteksi kasus, melainkan kesenjangan besar antara jumlah orang dengan HIV (ODHIV) yang teridentifikasi dan yang menjalani pengobatan antiretroviral (ARV).

banner 728x90

Data menunjukkan, dari 17.940 ODHIV yang telah mengetahui status HIV-nya, hanya 3.582 orang yang tercatat sedang menjalani pengobatan ARV. Kesenjangan ini mencerminkan rendahnya retensi pengobatan dan kepatuhan terapi jangka panjang, yang berpotensi memperbesar risiko penularan lanjutan di tingkat komunitas.

Secara epidemiologis, peningkatan jumlah kasus terlapor dalam beberapa tahun terakhir lebih banyak dipengaruhi oleh perluasan cakupan skrining HIV, penguatan layanan kesehatan, serta perbaikan sistem pelaporan. Namun demikian, penularan HIV di masyarakat masih terus berlangsung dan membutuhkan kewaspadaan serta intervensi berkelanjutan.

Berdasarkan distribusi orang (person), mayoritas kasus HIV/AIDS di Papua Tengah ditemukan pada kelompok usia produktif. Dari sisi jenis kelamin, proporsi kasus pada laki-laki mencapai 56 persen, sementara perempuan sebesar 44 persen. Kondisi ini berdampak langsung pada aspek sosial dan ekonomi daerah, mengingat kelompok usia produktif merupakan tulang punggung pembangunan.

Faktor risiko penularan HIV/AIDS masih didominasi oleh hubungan seksual tidak aman, disusul penularan dari ibu ke anak. Data ini menunjukkan masih perlunya penguatan edukasi pencegahan, promosi perilaku aman, serta perluasan layanan skrining HIV pada kelompok berisiko.

Dari aspek tempat (place), penyebaran kasus HIV/AIDS tercatat di seluruh kabupaten di Papua Tengah, dengan konsentrasi kasus lebih tinggi di wilayah yang memiliki mobilitas penduduk tinggi dan akses layanan kesehatan yang relatif lebih baik, seperti Nabire, Mimika, dan Paniai. Dari aspek waktu (time), tren peningkatan penemuan kasus terlihat jelas pada periode 2023–2025, seiring dengan meningkatnya layanan skrining aktif.

Permasalahan HIV/AIDS di Papua Tengah juga diperberat oleh tingginya koinfeksi HIV–TBC. Berdasarkan data 2025, tercatat 6.712 pasien TBC, dengan 5.083 pasien telah diketahui status HIV-nya. Dari jumlah tersebut, 778 pasien TBC-HIV telah mendapatkan terapi ARV, sementara 583 pasien menerima terapi pencegahan TBC (IPT). Koinfeksi ini berkontribusi signifikan terhadap peningkatan angka kesakitan dan kematian ODHIV.

Dari sisi pengobatan dan dampak klinis, sebanyak 1.305 ODHIV telah menjalani pemeriksaan viral load, dan 1.124 orang di antaranya berhasil mencapai supresi viral load. Capaian ini menunjukkan efektivitas terapi ARV dan mendukung prinsip U=U (Undetectable = Untransmittable), yaitu kondisi ketika virus tidak terdeteksi dan tidak menularkan. Namun demikian, capaian ini masih relatif kecil dibandingkan total kasus kumulatif HIV/AIDS di Papua Tengah.

Pada kelompok ibu hamil, dari 30.870 sasaran, baru 10.811 ibu hamil yang menjalani tes HIV. Dari jumlah tersebut, 116 ibu hamil terdeteksi HIV positif, dan 76 orang telah memulai terapi ARV. Data ini menunjukkan masih adanya celah serius dalam cakupan skrining HIV pada kehamilan dan pencegahan penularan HIV dari ibu ke anak.

Secara keseluruhan, data epidemiologis ini menegaskan bahwa HIV/AIDS di Papua Tengah masih menjadi tantangan besar kesehatan masyarakat. Diperlukan langkah yang lebih agresif dan berkelanjutan melalui perluasan skrining HIV, percepatan inisiasi ARV, peningkatan retensi pengobatan, serta penguatan pencegahan primer dan sekunder guna memutus rantai penularan dan menekan dampak jangka panjang epidemi HIV/AIDS di Papua Tengah.[*].

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.