MANOKWARI, TOMEI.ID | Setelah empat hari bertahan di lingkungan Gereja GIDI Misia, Amban, Manokwari, mahasiswa asal Kabupaten Yahukimo resmi membongkar posko dan kembali ke tempat kontrakan pada Rabu (7/10/2026).
Kepulangan itu dilakukan setelah mahasiswa memperoleh bantuan untuk membantu menyelesaikan persoalan pembayaran kontrakan yang sebelumnya membuat mereka meninggalkan tempat tinggal.
Pembongkaran posko tersebut sekaligus menandai berakhirnya masa bertahan sementara mahasiswa sejak Sabtu (3/10/2026), ketika mereka meninggalkan kontrakan akibat persoalan pembayaran sewa yang disebut belum diselesaikan selama sekitar satu tahun tiga bulan.
Ketua Korwil Yahukimo, Ima Siep, menjelaskan mahasiswa meninggalkan kontrakan karena persoalan pembayaran tersebut. Selama empat hari, mereka kemudian mendapat tempat berlindung di lingkungan Gereja GIDI Misia setelah diterima oleh pihak gereja.
“Kami sejak tanggal tiga kemarin dikeluarkan karena kontrakan belum dibayar selama satu tahun tiga bulan. Bapak gembala sudah menerima kami tinggal selama empat hari,” kata Ima saat menyampaikan keterangan sebelum pembongkaran posko.
Bantuan Rp200 Juta dan Rp100 Juta Buka Jalan Pulang
Menurut Ima, kepulangan mahasiswa ke kontrakan dapat dilakukan setelah adanya bantuan dari sejumlah pihak yang membantu menyelesaikan kebutuhan mendesak terkait tempat tinggal mereka.
Ima secara khusus menyampaikan apresiasi kepada Wakil Gubernur Papua Pegunungan Ones Pahabol yang disebut memberikan bantuan sebesar Rp200 juta untuk membantu pembayaran kontrakan mahasiswa Yahukimo di Manokwari.
Ucapan terima kasih juga disampaikan kepada Gubernur Papua Barat, Dominggus Mandacan, yang disebut memberikan bantuan sebesar Rp100 juta, disertai bahan makanan untuk mendukung mahasiswa selama menghadapi persoalan tempat tinggal.
“Terima kasih kepada Bapak Wakil Gubernur, orang tua kami, Bapak Ones, yang membantu kami dengan jumlah uang Rp200 juta untuk pembayaran kontrakan. Kami juga berterima kasih kepada Bapak Gubernur Papua Barat, Bapak Dominggus Mandacan, yang membantu kami dengan jumlah Rp100 juta dan sembako,” ujar Ima.
Bantuan tersebut menjadi jalan bagi mahasiswa untuk meninggalkan lokasi pengungsian sementara dan kembali ke kontrakan. Dengan demikian, aktivitas perkuliahan dan kehidupan sehari-hari yang sempat terganggu dapat kembali dijalankan.
Bagi mahasiswa, kepulangan itu bukan sekadar perpindahan tempat tinggal. Setelah empat hari menghadapi ketidakpastian dan keterbatasan fasilitas, mereka kembali memiliki ruang untuk beristirahat, belajar, serta menjalankan aktivitas pendidikan secara lebih layak.
Gereja GIDI Misia Jadi Tempat Bertahan
Selama berada di gereja, mahasiswa bertahan dengan fasilitas seadanya. Mereka tidak memiliki tempat tidur, kasur, dan sejumlah perlengkapan yang memadai seperti ketika masih menempati kontrakan.
Meski demikian, kondisi tersebut tidak membuat mahasiswa sepenuhnya berjalan tanpa dukungan. Sejumlah pihak datang memberikan bantuan berupa uang, bahan makanan, dan kebutuhan lainnya untuk membantu mereka melewati masa sulit selama berada di lingkungan gereja.
Pembina Yahukimo, Nonik Pahabol, yang juga terlibat dalam pelayanan di gereja, menceritakan kondisi mahasiswa ketika pertama kali datang ke Gereja GIDI Misia.
Menurut Nonik, pihak gereja pada awalnya menghadapi keterbatasan karena tidak memiliki persiapan tempat tidur, kasur, maupun perlengkapan yang cukup untuk menampung mahasiswa dalam jumlah banyak.
Namun, melihat mahasiswa datang dalam kondisi membutuhkan tempat berlindung, pihak gereja akhirnya membuka pintu dan menerima mereka sebagai bagian dari pelayanan kemanusiaan.
“Awalnya saya berpikir ketika mereka datang ke gereja, saya juga sangat berat untuk menerima karena tidak ada tempat tidur, kasur maupun perlengkapan. Tetapi saya menerima mereka dengan penuh sukacita dan doa,” ujar Nonik.
Selama empat hari berada di lingkungan gereja, mahasiswa harus menjalani kehidupan dengan kondisi terbatas. Mereka menghadapi dingin dan nyamuk pada malam hari serta keterbatasan fasilitas, namun tetap bertahan bersama sambil menunggu adanya jalan keluar atas persoalan tempat tinggal.
Bagi Nonik, keputusan menerima mahasiswa tersebut bukan semata-mata soal menyediakan tempat berteduh, tetapi juga merupakan bentuk kepedulian dan pelayanan terhadap mahasiswa yang sedang menghadapi persoalan tempat tinggal di tengah perjalanan pendidikan mereka.
Nonik juga menyampaikan terima kasih kepada Wakil Gubernur Papua Pegunungan, Ones Pahabol dan Gubernur Papua Barat Dominggus Mandacan atas bantuan yang diberikan kepada mahasiswa.
Ia turut mengapresiasi pihak-pihak lain yang ikut membantu selama mahasiswa berada di lingkungan gereja, termasuk Lazarus Sendok sebagai pemilik rumah yang disebut turut hadir dalam proses tersebut serta pihak lainnya yang memberikan dukungan.
Mahasiswa Sampaikan Terima Kasih kepada Gereja
Empat hari berada di Gereja GIDI Misia menjadi bagian penting dalam perjalanan mahasiswa Yahukimo selama menghadapi persoalan tempat tinggal di Manokwari.
Bagi mahasiswa, gereja bukan hanya menjadi tempat berteduh sementara, tetapi juga menjadi ruang aman ketika mereka kehilangan kepastian tempat tinggal setelah meninggalkan kontrakan.
Karena itu, sebelum posko dibongkar, mahasiswa menyampaikan terima kasih kepada gembala, majelis, dan seluruh jemaat Gereja GIDI Misia yang telah menerima serta memberikan ruang bagi mereka selama empat hari.
Ucapan tersebut disampaikan bersamaan dengan pembongkaran posko pada Rabu (7/10/2026), setelah mahasiswa mendapatkan bantuan dan kepastian untuk kembali ke tempat kontrakan.
Posko yang sebelumnya menjadi tempat berkumpul, beristirahat, dan bertahan selama menghadapi persoalan tempat tinggal akhirnya dibongkar. Mahasiswa kemudian meninggalkan lingkungan gereja untuk kembali menjalani aktivitas mereka di kontrakan.
Kepulangan Belum Berarti Persoalan Selesai
Meski mahasiswa telah kembali ke kontrakan, persoalan yang mereka hadapi belum sepenuhnya selesai. Mereka masih menyoroti pentingnya komunikasi dengan pemerintah agar persoalan tempat tinggal mahasiswa tidak kembali terjadi dan dapat ditangani secara lebih berkelanjutan.
Dalam penyampaian sebelum pembongkaran posko, mahasiswa mengakui bahwa komunikasi dengan pemerintah terkait persoalan mereka hingga saat ini masih menjadi perhatian.
“Kemudian untuk jalur komunikasi kami dengan pemerintah sampai saat ini belum ada. Kami berharap dalam waktu dekat bisa ada respons,” demikian disampaikan dalam pertemuan tersebut.
Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa bantuan yang diterima telah membantu menyelesaikan kebutuhan mendesak mahasiswa untuk kembali ke kontrakan. Namun, mereka masih membutuhkan perhatian dan komunikasi yang lebih berkelanjutan agar persoalan serupa tidak kembali mengganggu proses pendidikan.
Persoalan ini sekaligus memperlihatkan kerentanan mahasiswa asal Yahukimo yang menempuh pendidikan jauh dari daerah asal, terutama ketika kebutuhan dasar seperti tempat tinggal tidak memiliki sistem dukungan yang kuat dan berkelanjutan.
Dorongan Asrama Permanen Menguat
Pengalaman empat hari mahasiswa Yahukimo bertahan di lingkungan gereja kembali memperkuat kebutuhan akan solusi hunian jangka panjang bagi mahasiswa asal Yahukimo yang menempuh pendidikan di Manokwari.
Sebelumnya, muncul dorongan agar pemerintah menyediakan lahan dan membangun asrama permanen mahasiswa Yahukimo sebagai solusi untuk mengurangi ketergantungan terhadap kontrakan serta mencegah mahasiswa kembali menghadapi persoalan tempat tinggal serupa.
Asrama permanen tidak hanya dapat berfungsi sebagai tempat tinggal, tetapi juga dapat dikembangkan menjadi ruang belajar, pusat pembinaan mahasiswa, serta wadah untuk memperkuat kebersamaan dan solidaritas mahasiswa Yahukimo di Kota Studi Manokwari.
Kebutuhan tersebut menjadi semakin penting karena persoalan tempat tinggal dapat berdampak langsung terhadap keberlangsungan pendidikan mahasiswa. Kepastian hunian akan memberikan ruang yang lebih aman bagi mahasiswa untuk berkonsentrasi menyelesaikan pendidikan.
Posko Dibongkar, Perhatian Jangka Panjang Dibutuhkan
Kini, tenda dan posko telah dibongkar. Mahasiswa meninggalkan Gereja GIDI Misia dan kembali ke tempat kontrakan setelah mendapat bantuan dari sejumlah pihak.
Empat hari di gereja menjadi bagian penting dari perjalanan mereka, dimulai dari kehilangan tempat tinggal, bertahan dalam keterbatasan, menerima dukungan berbagai pihak, hingga akhirnya memperoleh kesempatan kembali menjalani kehidupan sebagai mahasiswa.
Namun, kepulangan tersebut tidak semestinya menjadi akhir dari perhatian terhadap persoalan mahasiswa Yahukimo di Manokwari.
Masih ada pekerjaan yang lebih besar, yakni memastikan mahasiswa memiliki tempat tinggal yang layak, membangun komunikasi yang jelas antara mahasiswa dan pemerintah, serta menghadirkan solusi hunian jangka panjang agar persoalan kontrakan tidak kembali mengganggu proses pendidikan.
Bagi mahasiswa Yahukimo, posko memang telah dibongkar. Namun, kebutuhan akan kepastian tempat tinggal dan keberpihakan terhadap keberlangsungan pendidikan mereka belum selesai. [*]












