Gubernur Papua Barat Bantu Mahasiswa Yahukimo, K2BPT dan KP2IT Sampaikan Terima Kasih

oleh -1178 Dilihat

MANOKWARI, TOMEI.ID | Bantuan Gubernur Papua Barat, Dominggus Mandacan, kepada mahasiswa asal Kabupaten Yahukimo mendapat apresiasi dari dua organisasi masyarakat Pegunungan Tengah, yang menyampaikan penghargaan atas perhatian pemerintah terhadap kondisi mahasiswa tersebut.

BACA JUGA: Gubernur Papua Barat Tangani Krisis Hunian Mahasiswa Yahukimo, Pembina Dorong Asrama Permanen

banner 728x90

Di saat yang sama, bantuan tersebut dinilai perlu menjadi pintu masuk untuk mendorong solusi jangka panjang berupa penyediaan lahan dan pembangunan asrama mahasiswa di Kota Studi Manokwari, Papua Barat, agar kebutuhan hunian mahasiswa dapat ditangani secara lebih terencana dan berkelanjutan.

Kepala Kerukunan Keluarga Besar Pegunungan Tengah (K2BPT) Provinsi Papua Barat, Apner Itlay, dan Ketua DPD KP2IT Papua Barat, Pilatus Langowan, S.Hut., menyampaikan apresiasi atas perhatian Gubernur Papua Barat terhadap kondisi mahasiswa Yahukimo yang sebelumnya menghadapi persoalan tempat tinggal.

BACA JUGA: Gubernur Dominggus Mandacan Salurkan Rp100 Juta dan 50 Paket Bama untuk Mahasiswa Yahukimo

Gubernur Papua Barat memberikan bantuan berupa Rp100 juta dan 50 paket bahan makanan (bama) kepada mahasiswa Yahukimo pada Rabu (7/10/2026).

Bantuan tersebut diberikan setelah lebih dari 100 mahasiswa sebelumnya meninggalkan tempat kontrakan akibat persoalan pembayaran sewa dan sementara bertahan di lingkungan Gereja GIDI Misia, Amban, Manokwari.

Bagi Apner, bantuan tersebut tidak hanya menjawab kebutuhan mahasiswa dalam situasi sulit, tetapi juga menunjukkan adanya perhatian pemerintah terhadap generasi muda yang sedang menempuh pendidikan jauh dari kampung halaman.

“Atas nama Kerukunan Keluarga Besar Pegunungan Tengah Provinsi Papua Barat, kami menyampaikan terima kasih kepada Bapak Gubernur Papua Barat, Dominggus Mandacan, yang telah memberikan perhatian kepada mahasiswa Yahukimo,” ujar Apner.

Menurut Apner, bantuan uang dan bahan makanan menjadi dukungan penting bagi mahasiswa yang sedang menghadapi keterbatasan tempat tinggal sekaligus kebutuhan sehari-hari. Namun, persoalan tersebut tidak seharusnya berhenti pada penanganan sementara.

Apner mendorong agar pemerintah dan para pihak terkait mulai membicarakan penyediaan tanah untuk pembangunan asrama mahasiswa Yahukimo di Manokwari. Menurutnya, kepastian tempat tinggal akan membantu mahasiswa menjalani perkuliahan dengan lebih tenang tanpa terus dibayangi persoalan kontrakan.

“Harapan kami ke depan ada solusi permanen. Mahasiswa membutuhkan tempat tinggal yang layak agar mereka bisa fokus kuliah dan menyelesaikan pendidikan,” katanya.

Ia menilai asrama mahasiswa tidak semata-mata berfungsi sebagai tempat tinggal. Jika dibangun dengan perencanaan yang baik, asrama dapat menjadi ruang belajar bersama, tempat pembinaan, pusat kegiatan mahasiswa, sekaligus wadah memperkuat kebersamaan mahasiswa Yahukimo selama berada di Kota Studi Manokwari.

Apresiasi serupa disampaikan Ketua DPD KP2IT Papua Barat, Pilatus Langowan, S.Hut. Ia menilai bantuan Gubernur Papua Barat merupakan bentuk kepedulian pemerintah terhadap mahasiswa Yahukimo yang sedang menghadapi persoalan tempat tinggal.

“DPD KP2IT Papua Barat menyampaikan terima kasih kepada Bapak Gubernur Papua Barat atas perhatian dan kepedulian yang diberikan kepada mahasiswa Yahukimo. Bantuan ini sangat berarti bagi mereka dalam menghadapi kondisi yang sedang terjadi,” ujar Pilatus.

Menurut Pilatus, persoalan yang dialami mahasiswa telah berkembang dari sekadar masalah kontrakan menjadi kebutuhan yang lebih mendasar, mulai dari tempat tinggal hingga pemenuhan kebutuhan pangan dan kenyamanan dalam menjalani aktivitas perkuliahan.

Karena itu, DPD KP2IT Papua Barat juga mendorong agar penyelesaian persoalan mahasiswa tidak hanya bersifat darurat, tetapi diarahkan pada kebijakan yang memberikan kepastian hunian dalam jangka panjang.

“Harapan kami, bantuan ini menjadi awal dari perhatian yang lebih berkelanjutan. Mahasiswa membutuhkan tempat tinggal yang layak dan pasti agar mereka dapat fokus menyelesaikan pendidikan,” katanya.

Pilatus menilai pembangunan asrama permanen dapat menjadi salah satu jawaban atas persoalan hunian mahasiswa Yahukimo di Manokwari. Selain menyediakan tempat tinggal, keberadaan asrama dapat mendukung pembinaan, aktivitas organisasi, ruang belajar, serta membangun solidaritas mahasiswa selama menjalani pendidikan.

Persoalan kontrakan yang sempat membuat mahasiswa kehilangan tempat tinggal akhirnya membuka kebutuhan yang lebih besar: bagaimana memastikan mahasiswa dari daerah memiliki hunian yang aman, layak, dan berkelanjutan selama menempuh pendidikan di kota studi.

Apner maupun Pilatus berharap perhatian yang telah diberikan Gubernur Papua Barat tidak berhenti pada bantuan uang dan bahan makanan. Mereka mendorong adanya pembicaraan lanjutan antara pemerintah, organisasi masyarakat, mahasiswa dan para pemangku kepentingan mengenai penyediaan lahan serta pembangunan asrama permanen.

Keduanya juga mengingatkan mahasiswa Yahukimo agar tetap menjaga persatuan, menghormati masyarakat di Manokwari dan menjadikan pendidikan sebagai prioritas utama. Dukungan terhadap mahasiswa, menurut mereka, perlu berjalan beriringan dengan tanggung jawab mahasiswa untuk menyelesaikan pendidikan.

Bagi mahasiswa yang berada jauh dari keluarga dan kampung halaman, kepastian tempat tinggal bukan sekadar persoalan memiliki atap untuk berteduh. Hunian yang layak merupakan bagian dari lingkungan pendidikan yang memungkinkan mereka belajar, berorganisasi dan mempersiapkan diri untuk kembali memberi kontribusi bagi masyarakat dan daerah.

Dengan demikian, bantuan Gubernur Papua Barat menjadi respons terhadap kebutuhan mendesak mahasiswa Yahukimo. Sementara dorongan K2BPT dan DPD KP2IT Papua Barat terhadap penyediaan tanah dan pembangunan asrama permanen menjadi agenda lanjutan yang membutuhkan pembahasan dan tindak lanjut bersama.

Bantuan dapat meringankan persoalan hari ini, tetapi kepastian hunian permanen diharapkan menjadi jawaban nyata agar persoalan serupa tidak kembali berulang dan mengganggu proses pendidikan mahasiswa di masa mendatang. [*].

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.