JAKARTA, TOMEI.ID | Kapal induk pertama yang masuk dalam jajaran TNI Angkatan Laut (TNI AL), eks ITS Giuseppe Garibaldi (C551), tiba di Dermaga 107 Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara, Jumat (18/9/2026).
Kapal perang hibah dari Pemerintah Italia tersebut selanjutnya akan menggunakan nama KRI Sriwijaya setelah proses serah terima dan perubahan status kepemilikan dilakukan. Kedatangan kapal tersebut menjadi catatan baru dalam sejarah pertahanan maritim Indonesia karena untuk pertama kalinya TNI AL memiliki kapal induk.
Namun, kehadiran kapal berusia sekitar empat dekade itu juga membawa sejumlah pertanyaan mengenai kesiapan operasional, kebutuhan pembenahan, biaya pemeliharaan, serta manfaat yang hendak dicapai pemerintah dalam jangka panjang.
Giuseppe Garibaldi merupakan kapal induk ringan yang mulai masuk dinas Angkatan Laut Italia pada 1985. Kapal tersebut telah menjalani masa operasional lebih dari 40 tahun sebelum Italia menempatkannya dalam status cadangan dan kemudian menyerahkannya kepada Indonesia melalui skema hibah antarpemerintah.
Kapal itu sebelumnya digunakan Italia dalam berbagai misi dan kemudian digantikan oleh kapal yang lebih baru, termasuk Trieste.
Dengan usia tersebut, pembahasan mengenai kapal ini tidak cukup hanya dilihat dari statusnya sebagai kapal induk pertama Indonesia. Aspek teknis, kesiapan sistem, kebutuhan modernisasi, serta kemampuan TNI AL mengoperasikan dan memelihara kapal berukuran besar menjadi bagian penting yang perlu diperhatikan sebelum kapal digunakan secara penuh.
Pemerintah dan TNI AL sebelumnya telah menjelaskan bahwa kapal tersebut tidak semata-mata diarahkan untuk kebutuhan operasi tempur. Kepala Staf TNI AL menyebut KRI Sriwijaya akan lebih difokuskan untuk Operasi Militer Selain Perang (OMSP), terutama dalam mendukung penanganan bencana dan kebutuhan kemanusiaan. Kapal tersebut juga diproyeksikan menjadi platform yang mampu membawa sejumlah helikopter dan pesawat tanpa awak sesuai kebutuhan.
Fungsi tersebut menjadi relevan bagi Indonesia sebagai negara kepulauan yang memiliki wilayah geografis luas dan menghadapi berbagai risiko bencana. Kapal dengan kemampuan membawa unsur penerbangan dapat digunakan sebagai salah satu sarana pendukung ketika akses darat maupun fasilitas di wilayah terdampak mengalami gangguan.
Di sisi lain, keberadaan Giuseppe Garibaldi juga dapat menjadi sarana bagi Indonesia untuk membangun pengalaman dalam pengoperasian kapal induk. Selama ini TNI AL belum memiliki pengalaman mengoperasikan kapal induk sebagai bagian dari kekuatan armadanya.
Karena itu, pengoperasian kapal tersebut dapat menjadi proses pembelajaran mengenai manajemen kapal, operasi penerbangan di geladak, sistem komando dan kendali, keselamatan pelayaran, hingga pengelolaan personel serta logistik.
Aspek transfer pengetahuan dan teknologi juga menjadi salah satu perhatian dalam pembahasan penerimaan hibah tersebut. Komisi I DPR RI ketika menyetujui penerimaan hibah menekankan bahwa kehadiran kapal harus diikuti kesiapan doktrin, sumber daya manusia, serta penguatan industri pertahanan nasional.
Namun, istilah hibah tidak berarti pengoperasian kapal tersebut sepenuhnya bebas dari kebutuhan anggaran. Indonesia tetap harus menyiapkan biaya untuk pemeliharaan, pembenahan, modernisasi, pengoperasian, pelatihan awak, serta penyesuaian sistem dengan kebutuhan TNI AL.
Dalam pembahasan di DPR, persoalan usia kapal dan kebutuhan anggaran juga menjadi bagian dari perhatian anggota parlemen.
Sejumlah laporan mengenai pembahasan hibah mencatat adanya estimasi kebutuhan biaya pemeliharaan dan modernisasi yang besar. Angka-angka tersebut perlu dibedakan antara biaya hibah, biaya pemeliharaan tahunan, dan kebutuhan modernisasi agar publik tidak mencampuradukkan nilai barang hibah dengan keseluruhan biaya kepemilikan kapal.
Komisi I DPR RI sendiri pada Juli 2026 menyetujui penerimaan hibah Giuseppe Garibaldi dari Pemerintah Italia dengan nilai yang tercantum dalam dokumen persetujuan sebesar 54.022.426,67 euro. Persetujuan tersebut kemudian dibawa ke rapat paripurna DPR.
Karena itu, pertanyaan mengenai manfaat dan biaya kapal tersebut menjadi bagian penting dalam melihat kebijakan ini secara utuh. Persoalannya bukan hanya bagaimana Indonesia memperoleh kapal induk, tetapi bagaimana kapal itu dipersiapkan, untuk misi apa akan digunakan, berapa kebutuhan anggarannya, serta bagaimana negara memastikan kapal tetap memiliki fungsi yang jelas dan terukur.
Bagi Indonesia, Giuseppe Garibaldi kini bukan lagi sekadar kapal yang datang dari Italia. Kapal tersebut menjadi bagian dari proses membangun pengalaman baru dalam pengoperasian platform kapal induk, sekaligus menguji kesiapan sumber daya manusia, sistem pemeliharaan, doktrin operasi, dan kemampuan industri pertahanan nasional.
Kedatangan kapal di Tanjung Priok pada Jumat (18/9/2026) dengan demikian menandai dimulainya tahapan baru. Setelah proses serah terima, perubahan nama menjadi KRI Sriwijaya, serta pembenahan yang diperlukan, perhatian publik akan bergeser dari seremoni kedatangan menuju bagaimana kapal tersebut benar-benar dipersiapkan dan digunakan.
Pada akhirnya, ukuran keberadaan kapal induk pertama Indonesia tidak hanya terletak pada statusnya sebagai simbol baru kekuatan maritim. Yang lebih penting adalah fungsi, kesiapan, keberlanjutan pembiayaan, kemampuan awak, serta manfaat nyata yang dapat diberikan bagi pertahanan dan kepentingan kemanusiaan Indonesia. [*].










