Kopi Homeyo Tumbuh Sejak 1960-an, Petani Kopi Terkendala Alat Produksi

oleh -1227 Dilihat

NABIRE, TOMEI.ID | Petani kopi di Distrik Homeyo, Kabupaten Intan Jaya, Papua Tengah, masih menghadapi kendala keterbatasan alat produksi, meskipun tanaman kopi di wilayah tersebut telah berkembang sejak 1960-an.

Keterbatasan mesin pengupas dan peralatan pengolahan hasil panen menjadi persoalan utama yang menghambat petani meningkatkan produksi serta mengembangkan potensi kopi lokal.

banner 728x90

Persoalan tersebut disampaikan Ketua Kelompok Tani Kopi Sulage dari Kampung Bilai, Distrik Homeyo, Markus Sondegau, saat menghadiri Festival Kopi Papua Tengah 2026 di Aula KSK Bukit Meriam, Kabupaten Nabire, Jumat (30/10/2026).

Festival yang berlangsung selama dua hari, 29–30 Oktober 2026, itu menjadi ruang promosi bagi petani dan pelaku usaha kopi lokal dari berbagai wilayah di Papua Tengah.

Markus menjelaskan, Distrik Homeyo memiliki empat kelompok tani kopi, yakni Menembega, Anema, Sulage, dan Katarina. Kelompok-kelompok tersebut terus berupaya mengembangkan tanaman kopi di wilayahnya.

“Kami di lapangan merasakan rumitnya kendala yang dihadapi dalam budidaya tanaman kopi. Kopi ini sebenarnya sudah ada sejak tahun 1960-an,” jelas Markus.

Menurutnya, pada masa awal perkembangannya, tanaman kopi tumbuh secara alami karena masyarakat belum memiliki peralatan untuk mengolah hasil panen. Kondisi tersebut membuat potensi kopi belum dikembangkan secara maksimal.

Kini, masyarakat mulai membuka kebun baru dan kembali menanam kopi. Tanaman tersebut tumbuh subur dan mulai menghasilkan buah, tetapi kemampuan petani mengolah hasil panen masih terbatas.

“Setelah kami menanam kembali, tanaman kopi tumbuh subur. Namun, kendala utama yang kami hadapi di lapangan adalah alat-alat produksi,” katanya.

Markus mengatakan, petani membutuhkan mesin pengupas dan peralatan pendukung lainnya agar buah kopi yang telah dipanen dapat diolah menjadi biji kopi siap dipasarkan.

“Setelah kopi berbuah dan berwarna merah, kami petik kemudian dikeringkan. Kami membutuhkan alat untuk mengupas kopi yang sudah kering agar bisa diolah lebih lanjut,” ujar Sondegau.

Ia menyebutkan, kebutuhan tersebut tidak hanya dirasakan Kelompok Tani Sulage, tetapi juga kelompok-kelompok tani lainnya di Distrik Homeyo.

Menurutnya, bantuan peralatan produksi akan mempermudah masyarakat mengolah hasil kebun sekaligus meningkatkan kemampuan kelompok tani dalam mengembangkan usaha kopi.

Karena itu, Markus berharap Pemerintah Kabupaten Intan Jaya dan Pemerintah Provinsi (Pemprov) Papua Tengah memberikan perhatian terhadap kebutuhan petani di wilayah tersebut.

“Kami berharap pemerintah kabupaten maupun pemerintah provinsi dapat membantu menyediakan alat-alat kerja yang kami butuhkan di lapangan,” tegasnya.

Markus mengungkapkan, petani Homeyo ingin mengembangkan kopi seperti daerah-daerah penghasil kopi lainnya di Indonesia yang telah memiliki fasilitas pengolahan dan sistem produksi lebih maju.

“Kami ingin seperti petani-petani di daerah lain yang sudah maju. Harapan masyarakat, kami juga bisa berkembang seperti itu,” tutupnya. [*].

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.