Kopi Jadi Andalan Ekonomi, Pemprov Papua Tengah Pacu Pengembangan dari Hulu hingga Hilir

oleh -1156 Dilihat

NABIRE, TOMEI.ID | Pemerintah Provinsi Papua Tengah memperkuat sektor perkebunan, khususnya komoditas kopi, sebagai salah satu sumber pertumbuhan ekonomi daerah sekaligus instrumen peningkatan pendapatan dan kesejahteraan petani.

Penguatan tersebut dibahas dalam Rapat Koordinasi dan Sinkronisasi Program Gubernur Papua Tengah dalam rangka pembangunan sektor perkebunan komoditas kopi dan sektor pertanian melalui pembibitan ternak di Hotel Carmel Kalibobo, Nabire, Senin (10/8/2026).

banner 728x90

Rakorda diikuti dinas perkebunan kabupaten se-Papua Tengah, Kementerian Pertanian RI, Sustainable Coffee Platform of Indonesia (SCOPI), pemerintah kabupaten, serta pemangku kepentingan sektor perkebunan dan peternakan.

Asisten II Bidang Perekonomian dan Pembangunan Setda Papua Tengah, Dr. H. Tumiran, hadir mewakili Gubernur Papua Tengah Meki Nawipa sekaligus membacakan sambutan gubernur.

Dalam sambutannya, Meki menegaskan kopi memiliki posisi strategis dalam mendorong pertumbuhan ekonomi berbasis potensi lokal.

“Para petani komoditas kopi sebagai salah satu penggerak utama pertumbuhan ekonomi daerah sekaligus instrumen peningkatan kesejahteraan masyarakat,” ujar Meki.

Delapan Kabupaten Dipetakan sebagai Sentra Kopi

Pemprov Papua Tengah memetakan potensi pengembangan kopi berdasarkan karakteristik wilayah. Nabire dan Mimika diarahkan untuk pengembangan kopi robusta, sedangkan Dogiyai, Paniai, Deiyai, Intan Jaya, Puncak Jaya, dan Puncak memiliki potensi kopi arabika berkualitas tinggi.

Meki menegaskan potensi tersebut tidak boleh berhenti pada peningkatan produksi. Pengembangan kopi harus dibangun secara menyeluruh, mulai dari penyediaan benih unggul, budidaya, pembinaan petani, penguatan kelembagaan, peningkatan mutu pascapanen, hilirisasi hingga pemasaran.

“Potensi ini harus dikelola secara terencana, berkelanjutan, dan memberikan manfaat bagi masyarakat,” tegasnya.

Kebijakan tersebut sejalan dengan visi Papua Tengah Emas, Adil, Berdaya Saing, Bermartabat, Harmonis, Maju, dan Berkelanjutan. Sektor perkebunan ditempatkan sebagai salah satu sektor strategis dalam transformasi ekonomi daerah berbasis potensi lokal.

Data Petani dan CPCL Harus Transparan

Untuk memastikan program tepat sasaran, pemerintah kabupaten diminta memperkuat pendataan petani. Data yang akurat dinilai penting untuk menentukan penerima program, lokasi intervensi dan distribusi dukungan pemerintah.

“Melakukan pendataan petani secara akurat, mutakhir, dan berkelanjutan,” pintanya.

Penyusunan Calon Petani dan Calon Lokasi (CPCL) juga harus dilakukan secara objektif, transparan dan dapat dipertanggungjawabkan.

Pemprov turut mendorong penguatan kelompok tani, koperasi dan kelembagaan ekonomi petani. Kapasitas penyuluh, pendamping lapangan dan sumber daya manusia perkebunan juga harus ditingkatkan.

Pemerintah juga mendorong sistem pembibitan kopi unggul yang berkelanjutan serta perlindungan kawasan budidaya melalui prinsip konservasi lingkungan.

Produksi Saja Tak Cukup

Pemprov Papua Tengah menilai peningkatan produksi tanpa hilirisasi belum cukup untuk meningkatkan kesejahteraan petani.

Karena itu, pengembangan kopi diarahkan dari hulu hingga hilir, meliputi pengolahan, pengemasan, promosi, pemasaran, pemanfaatan teknologi digital, hingga penguatan koperasi dan usaha pengolahan kopi.

Langkah tersebut ditujukan untuk menciptakan nilai tambah sehingga petani tidak hanya bergantung pada penjualan biji kopi mentah.

“Data yang akurat menjadi dasar dalam penyusunan kebijakan dan pelaksanaan program agar tepat sasaran dan memberikan manfaat bagi masyarakat,” tekan Gubernur.

Meki berharap Rakorda menghasilkan rekomendasi konkret yang dapat segera ditindaklanjuti pemerintah pusat, pemerintah provinsi, pemerintah kabupaten dan seluruh pemangku kepentingan.

Kopi dan Peternakan Dikembangkan Terintegrasi

Pengembangan ekonomi berbasis pertanian juga diarahkan melalui subsektor peternakan dengan konsep usaha tani terpadu (integrated farming).

Melalui pola tersebut, perkebunan dan peternakan diharapkan saling menopang untuk meningkatkan produktivitas sekaligus membuka sumber pendapatan masyarakat.

Pengembangan kopi dengan demikian tidak sekadar mengejar peningkatan produksi, tetapi diarahkan membentuk rantai ekonomi yang menghubungkan petani, kelompok tani, koperasi, industri pengolahan, pasar hingga konsumen.

Diversifikasi Ekonomi di Tengah Dominasi Pertambangan

Penguatan perkebunan memiliki arti strategis bagi Papua Tengah yang struktur ekonominya masih sangat bergantung pada sektor pertambangan dan penggalian.

Badan Pusat Statistik mencatat sektor pertambangan dan penggalian menyumbang 76,22 persen terhadap struktur ekonomi Papua Tengah pada triwulan I 2026. Pada periode yang sama, ekonomi Papua Tengah tanpa pertambangan tumbuh 4,75 persen, sementara sektor pertambangan mengalami kontraksi 13,62 persen secara year-on-year.

Kondisi tersebut memperkuat urgensi diversifikasi sumber pertumbuhan ekonomi melalui sektor berbasis potensi lokal, termasuk perkebunan, pertanian dan peternakan.

Sebelumnya, Gubernur Meki Nawipa juga menargetkan penanaman satu juta pohon kopi pada 2026, dengan fokus pembinaan petani di Paniai, Dogiyai, Puncak Jaya dan Intan Jaya.

Target tersebut mencakup penguatan teknik budidaya, pemangkasan, pemupukan, pengendalian hama, hingga panen dan pascapanen untuk meningkatkan kualitas produksi dan pendapatan petani.

Rakorda ini pun diarahkan bukan sekadar sebagai forum koordinasi, tetapi sebagai titik konsolidasi untuk memastikan potensi kopi Papua Tengah diterjemahkan menjadi produksi berkualitas, industri pengolahan, pasar yang kuat dan peningkatan pendapatan petani.

Jika seluruh mata rantai tersebut berjalan, kopi berpeluang menjadi salah satu mesin pertumbuhan ekonomi baru Papua Tengah di luar ketergantungan terhadap pertambangan. [*]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.