Berita

Mama Papua Desak Kenaikan Harga Sayur, MRP Papua Barat Diminta Segera Intervensi

MANOKWARI, TOMEI.ID | Kelompok pedagang Mama Papua mendatangi Majelis Rakyat Papua (MRP) Provinsi Papua Barat untuk menyampaikan tuntutan kenaikan harga sayur-mayur yang dinilai tidak lagi sesuai dengan kondisi ekonomi saat ini, Jumat (1/5/2026).

Audiensi yang berlangsung di Kantor MRP Papua Barat tersebut dihadiri para pedagang asli Papua yang selama ini menggantungkan hidup dari hasil kebun. Mereka menyoroti harga jual sayur di Pasar Wosi yang masih bertahan di angka Rp5.000 per tumpuk, meski biaya hidup terus meningkat.

Para Mama Papua menilai stagnasi harga ini berdampak langsung pada menurunnya daya tahan ekonomi keluarga. Ketimpangan antara harga jual hasil kebun dan kebutuhan pokok yang terus naik dinilai semakin menekan ruang hidup pedagang kecil.

Perwakilan Mama Papua, Rut Saroy, menegaskan bahwa harga lama sudah tidak relevan dan perlu segera disesuaikan agar pedagang dapat bertahan di tengah tekanan ekonomi yang terus meningkat tajam.

“Dulu Rp5.000, sekarang harus naik menjadi Rp10.000 bahkan Rp15.000 per tumpuk,” ujarnya dalam audiensi.

Menurutnya, harga sayur tidak mengalami perubahan dalam waktu yang cukup lama, sementara harga kebutuhan lain terus meningkat secara signifikan. Kondisi ini dinilai tidak adil bagi para pedagang yang bergantung pada sektor pertanian skala kecil.

Menanggapi aspirasi tersebut, Ketua Pokja Perempuan MRP Papua Barat, Irma Sirlviana Nuham, menyatakan bahwa pihaknya akan menindaklanjuti tuntutan tersebut dengan menyampaikannya kepada pemerintah daerah.

MRP menegaskan bahwa persoalan harga sayur bukan sekadar isu pasar, melainkan menyangkut perlindungan ekonomi masyarakat adat, khususnya Mama Papua sebagai pelaku ekonomi lokal yang perlu mendapatkan perhatian serius.

Desakan ini menjadi sinyal kuat bagi pemerintah daerah untuk segera mengambil langkah konkret dalam menstabilkan dan menyesuaikan harga komoditas lokal agar tetap berpihak pada pelaku usaha kecil.

Penyesuaian harga dari Rp5.000 menjadi Rp10.000 hingga Rp15.000 per tumpuk dinilai sebagai langkah realistis guna menjaga keberlangsungan ekonomi Mama Papua sekaligus memperkuat ketahanan ekonomi masyarakat akar rumput di Papua Barat. [*].

Redaksi Tomei

Recent Posts

Yosua Douw Terbitkan Buku Papua dari Hati ke Hati, Persembahkan untuk Literasi Papua

KARUBAGA, TOMEI.ID | Intelektual muda Papua, Dr. Yosua Noak Douw, S.Sos, M.Si, MA, menerbitkan buku…

1 jam ago

Dinsos Papua Pegunungan Siapkan Beras Murah, Mulai Dijual Besok

WAMENA, TOMEI.ID | Dinas Sosial Provinsi Papua Pegunungan mulai menjual beras murah bagi masyarakat, Kamis…

1 jam ago

29 Wisudawan UNIPA Dilepas IMPT Manokwari, Alumni Dituntut Kembali Mengabdi

MANOKWARI, TOMEI.ID | Ikatan Mahasiswa Pegunungan Tengah (IMPT) Manokwari melepas 29 wisudawan/i Universitas Papua (UNIPA)…

2 jam ago

Pemprov Papua Pegunungan Rombak Pendidikan, Sekolah Asrama dan Beasiswa Diperketat

WAMENA, TOMEI.ID | Pemerintah Provinsi (Pemprov) Papua Pegunungan menyiapkan perubahan besar dalam sistem pendidikan, mulai…

2 jam ago

Otsus Jilid II Jadi Instrumen Percepatan, Pemprov Papua Tengah Perkuat Tata Kelola Pemerintahan

NABIRE, TOMEI.ID | Pemerintah Provinsi (Pemprov) Papua Tengah memperkuat kapasitas aparatur untuk memastikan pelaksanaan Otonomi…

3 jam ago

Dinkes Papua Tengah Tegaskan Pelayanan Kesehatan Adalah Hak Dasar, Bukan Sekadar Program

NABIRE, TOMEI.ID | Pemerintah Provinsi (Pemprov) Papua Tengah melalui Dinas Kesehatan memperkuat kapasitas aparatur negara…

3 jam ago