Berita

Musa Boma Serahkan Pernyataan Sikap SIMAPITOWA kepada Menteri HAM, Soroti Pemasangan Papan Nama di Siriwo

NABIRE, TOMEI.ID | Front Peduli Manusia dan Alam Meepago Wilayah SIMAPITOWA Kabupaten Nabire menyampaikan pernyataan sikap terkait persoalan tanah dan pemasangan papan nama yang mereka persoalkan di wilayah Siriwo, Kabupaten Nabire, Papua Tengah.

Pernyataan sikap tersebut diserahkan kepada Menteri Hak Asasi Manusia (HAM) Natalius Pigai setelah sebelumnya kelompok tersebut menggelar aksi damai pada 10 Agustus 2026 dengan sasaran Kantor DPR Papua Tengah.

Penanggung jawab aksi, Musa Boma Mapiha, mengatakan pihaknya meminta pemerintah memberikan perhatian terhadap persoalan yang mereka anggap berkaitan dengan hak masyarakat atas tanah.

Menurutnya, masyarakat mempersoalkan pemasangan papan nama yang disebut dilakukan Satgas PKH di sekitar Kilometer 95 dan Kilometer 102, tanpa koordinasi dengan masyarakat setempat maupun kepala dusun setempat.

“Kami meminta kepada Bapak Menteri HAM segera berkoordinasi dengan Satgas PKH untuk mencabut papan nama yang mereka tanam,” ujar Musa Boma setelah menyerahkan pernyataan sikap tersebut kepada Menteri HAM dalam keterangannya kepada wartawan di Nabire, Senin (17/8/2026).

Musa mengatakan, berdasarkan informasi yang disampaikan dalam aksi, wilayah yang mereka persoalkan memiliki luasan sekitar 195.885 hektare. Ia menyebut masyarakat Mapia dan wilayah Meepago menolak penguasaan tanah tersebut apabila dilakukan tanpa koordinasi dan persetujuan masyarakat setempat.

Namun, klaim mengenai luasan lahan, status penguasaan, serta pihak yang melakukan pemasangan papan nama tersebut masih memerlukan konfirmasi dari pihak terkait agar pemberitaan dapat menggambarkan posisi masing-masing pihak secara berimbang.

Menurut Musa, persoalan tanah tidak hanya berkaitan dengan kondisi masyarakat saat ini, tetapi juga menyangkut keberlangsungan kehidupan generasi mendatang.

“Karena kami sadar, kalau tanah dirampas, kehidupan anak cucu kami akan menderita,” katanya.

Ia menilai tanah memiliki hubungan erat dengan kehidupan masyarakat adat. Tanah, kata dia, dipandang sebagai sumber kehidupan, tempat bergantungnya masyarakat, sekaligus bagian penting dari masa depan generasi berikutnya.

“Kita tahu bahwa setiap manusia diciptakan dari tanah. Tanah itu menjadi mama kami, sumber hidup kami, dan harapan masa depan kami,” ujar Musa.

Musa juga menegaskan sikap kelompoknya untuk mempertahankan tanah yang mereka klaim sebagai bagian dari ruang hidup masyarakat. Ia mengatakan masyarakat tidak ingin tanah tersebut diberikan kepada institusi negara maupun perusahaan tanpa adanya proses yang melibatkan masyarakat.

“Kami seluruh lapisan masyarakat berkomitmen bahwa tanah kami tidak bisa diberikan kepada TNI, Polri, maupun perusahaan apa pun,” tegasnya.

Musa Minta Pemerintah Buka Ruang Dialog

Menurut Musa, penyampaian pernyataan sikap kepada Menteri HAM diharapkan dapat menjadi pintu masuk bagi penyelesaian persoalan melalui komunikasi dan koordinasi dengan pihak-pihak terkait.

Ia meminta pemerintah tidak hanya melihat persoalan tanah dari sisi administratif, tetapi juga mempertimbangkan kepentingan masyarakat yang selama ini hidup dan bergantung pada wilayah tersebut.

Pihak Front Peduli Manusia dan Alam Meepago Wilayah SIMAPITOWA berharap pemerintah dapat menindaklanjuti aspirasi tersebut dengan mempertemukan masyarakat, pemerintah daerah, serta pihak yang berkaitan dengan aktivitas di wilayah yang dipersoalkan.

Dengan demikian, persoalan mengenai tanah dan pemasangan papan nama dapat diklarifikasi secara terbuka serta dicari penyelesaian melalui mekanisme yang sesuai dengan ketentuan hukum dan melibatkan masyarakat terdampak. [*].

Redaksi Tomei

Recent Posts

Paroki K3 Damabagata Sampaikan Terima Kasih atas Dukungan Rp5 Miliar dari Gubernur

DEIYAI, TOMEI.ID | Kunjungan kerja Gubernur Papua Tengah Meki Nawipa memasuki hari kedua di Kabupaten…

10 jam ago

Gubernur Meki Nawipa Targetkan Sengketa Tapal Batas Kapiraya Tuntas Sebelum Desember

DEIYAI, TOMEI.ID | Gubernur Papua Tengah, Meki Nawipa, menargetkan sengketa tapal batas Kapiraya yang selama…

14 jam ago

Kunker ke Deiyai, Meki Nawipa Soroti Asrama dan Ekonomi Mama-Mama Papua

DEIYAI, TOMEI.ID | Setelah menuntaskan kunjungan kerja hari pertama di Kabupaten Dogiyai, Gubernur Papua Tengah,…

15 jam ago

Terima Rp500 Juta dan Bantuan Alkes, Maria Clara: Terima Kasih Pak Gubernur

DOGIYAI, TOMEI.ID | Ucapan terima kasih disampaikan Direktur RSUD Pratama Dogiyai, dr. Maria Clara Giyai,…

1 hari ago

Meki Nawipa di Dogiyai: Politik Selesai, Jangan Palang Pembangunan

DOGIYAI, TOMEI.ID | Gubernur Papua Tengah, Meki Nawipa, meminta masyarakat Kabupaten Dogiyai menghentikan berbagai tindakan…

1 hari ago

Dari Panen Kacang ke Panen Generasi, Meki Nawipa Mulai Babak Baru Pendidikan Mapia

DOGIYAI, TOMEI.ID | Ada tempat yang tidak pernah meminta untuk disebut besar dan tidak selalu…

1 hari ago