Dinkes Papua Tengah Perkuat Layanan HIV-TB di Nabire, Mentoring Klinik Sasar Sembilan Puskesmas PDP

oleh -1162 Dilihat

NABIRE, TOMEI.ID | Dinas Kesehatan Provinsi Papua Tengah memperkuat kualitas pelayanan HIV dan Tuberkulosis (TB) melalui Clinical Mentoring Evaluation Meeting (BL.169) yang menyasar tenaga kesehatan dan jejaring sembilan Puskesmas Perawatan, Dukungan dan Pengobatan (PDP) HIV di Kabupaten Nabire.

Kegiatan yang didukung Global Fund itu berlangsung di Hotel Mahavira 2 Nabire, 20 Agustus 2026, sebagai langkah memperkuat kapasitas tenaga kesehatan, mengevaluasi hambatan pelayanan, dan memastikan pasien HIV maupun TB tidak terputus dari layanan.

banner 728x90

Pertemuan dibuka Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Papua Tengah, dr. Pingki Wardani, didampingi jajaran P2M Dinkes Papua Tengah dan Kabupaten Nabire.

Turut hadir tenaga kesehatan, pengelola program HIV-TB, serta jajaran Dinas Kesehatan Kabupaten Nabire.

Penguatan pelayanan difokuskan pada pemeriksaan HIV, skrining TB, pemberian Terapi Pencegahan Tuberkulosis (TPT), pengobatan antiretroviral (ARV), koordinasi lintas program, hingga pencatatan dan pelaporan sesuai standar nasional.

Langkah ini dinilai penting karena HIV dan TB memiliki keterkaitan erat. Orang dengan HIV memiliki risiko lebih tinggi mengalami TB, sehingga skrining TB harus menjadi bagian dari pelayanan rutin. Sebaliknya, pasien TB juga perlu memperoleh pemeriksaan HIV sesuai ketentuan program.

Melalui integrasi layanan tersebut, Dinkes Papua Tengah mendorong penemuan kasus lebih dini, percepatan pengobatan, penguatan pencegahan, dan kesinambungan pelayanan bagi pasien.

Sembilan Puskesmas Jadi Ujung Tombak

Clinical Mentoring Evaluation Meeting juga menjadi ruang evaluasi dan penguatan jejaring PDP HIV di Kabupaten Nabire.

Sembilan Puskesmas yang masuk dalam jejaring tersebut yakni Puskesmas Wanggar Sari, Samabusa, Nabarua, Bumi Wonorejo, Karang Mulia, Siriwini, Karang Tumaritis, SP1 Kalibumi, dan Nabire Kota.

Jejaring ini menjadi ujung tombak pelayanan HIV di tingkat masyarakat, mulai dari pemeriksaan dan konseling, pengobatan ARV, pemantauan pasien, pelayanan Infeksi Menular Seksual (IMS), skrining TB, pemberian TPT, pemeriksaan laboratorium, hingga pencatatan dan pelaporan.

Penguatan Puskesmas PDP dinilai menjadi kunci untuk mendekatkan layanan kepada masyarakat sekaligus menekan risiko pasien terlambat mendapatkan pengobatan.

Percepat Test and Treat, Cegah TB Sejak Dini

Dalam kegiatan mentoring, tenaga kesehatan juga didorong memperkuat strategi Test and Treat, agar pasien yang telah terdiagnosis HIV dapat segera mengakses pengobatan ARV sesuai standar pelayanan.

Selain pengobatan, TPT menjadi bagian penting dalam pencegahan TB pada orang dengan HIV yang memenuhi kriteria.

Tenaga kesehatan diminta memastikan skrining dilakukan secara tepat agar pasien yang berisiko dapat segera memperoleh tindakan pencegahan sebelum berkembang menjadi kasus TB aktif.

Pendekatan ini menegaskan bahwa pelayanan HIV tidak hanya berorientasi pada pemberian obat, tetapi juga pencegahan penyakit penyerta dan pemantauan pasien secara berkelanjutan.

Target 95-95-95 Tidak Cukup Sekadar Menemukan Kasus

Kepala Dinas Kesehatan Papua Tengah, dr. Agus meminta seluruh jajaran tenaga kesehatan untuk memperkuat komitmen dalam penanggulangan HIV/AIDS.

Pencapaian target global 95-95-95 harus dibarengi dengan peningkatan mutu layanan secara menyeluruh, mulai dari penemuan kasus, pemeriksaan dan diagnosis, pemberian ARV, pemantauan pengobatan, pemeriksaan viral load, pelayanan IMS, skrining TB, pemberian TPT, hingga pencatatan dan pelaporan.

“Keberhasilan program HIV tidak cukup hanya dengan menemukan kasus. Kita harus memastikan setiap orang dengan HIV mendapatkan pelayanan yang berkesinambungan, pengobatan ARV, pemantauan, pemeriksaan yang diperlukan, serta dukungan agar tetap patuh menjalani pengobatan,” minta Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Papua Tengah.

Kepala Dinas juga menegaskan kegiatan mentoring tidak boleh berhenti sebagai agenda seremonial atau sekadar menghasilkan dokumen evaluasi.

“Jangan sampai kegiatan evaluasi hanya menghasilkan laporan. Yang paling penting adalah adanya perubahan dan perbaikan pelayanan setelah kegiatan ini,” tegasnya.

Evaluasi Harus Berujung Perbaikan

Pertemuan tersebut menjadi forum bagi tenaga kesehatan untuk membedah persoalan pelayanan HIV-TB di masing-masing Puskesmas, mengidentifikasi hambatan, berbagi pengalaman, dan menyusun langkah tindak lanjut.

Dinkes juga memberi perhatian pada penguatan pencatatan dan pelaporan. Data yang lengkap, akurat, dan tepat waktu diperlukan untuk memantau perkembangan program, menjaga kesinambungan pengobatan pasien, menghitung kebutuhan obat dan pemeriksaan, serta menjadi dasar pengambilan kebijakan.

Dinas Kesehatan Provinsi Papua Tengah bersama Dinas Kesehatan Kabupaten Nabire berkomitmen memperkuat jejaring Puskesmas PDP dan integrasi pelayanan HIV-TB.

Dengan dukungan Global Fund dan keterlibatan tenaga kesehatan, hasil mentoring diharapkan tidak berhenti di ruang pertemuan, tetapi diterjemahkan menjadi perbaikan nyata di fasilitas pelayanan kesehatan.

Dinkes Papua Tengah menegaskan arah penguatan program tersebut: menemukan kasus HIV dan TB sedini mungkin, mempercepat pengobatan dan pencegahan, memperkuat layanan terintegrasi, serta memastikan tidak ada pasien yang terputus dari pelayanan.

Pelayanan HIV dan TB, pada akhirnya, dituntut tidak hanya bermutu dan mudah diakses, tetapi juga berkesinambungan serta bebas dari stigma dan diskriminasi. [*].

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.