JAYAPURA, TOMEI.ID | Kepala Kampung Kiworo bersama perwakilan pemuda dan intelektual Kampung Kiworo, Distrik Kimaam, Kabupaten Merauke, mendatangi Polres Merauke untuk melaporkan dugaan penyerangan, perusakan, dan pembakaran yang terjadi di kampung terjadi di Kampung Kiworo pada Senin (20/7/2026.
Berdasarkan keterangan yang disampaikan pelapor, delapan unit rumah warga beserta rumah adat Kampung Kiworo dilaporkan terbakar dalam rangkaian konflik yang terjadi di wilayah Distrik Kimaam. Selain itu, rumah pribadi Kepala Kampung Kiworo juga dilaporkan mengalami pembakaran pada Sabtu (25/7/2026) sekitar pukul 10.00 WIT.
Perwakilan masyarakat menyatakan bahwa laporan tersebut diajukan untuk meminta aparat penegak hukum mengusut tuntas dugaan pelaku penyerangan, perusakan, pembakaran, serta pencurian harta benda warga. Mereka juga meminta Pemerintah Kabupaten Merauke memberikan perhatian serius terhadap situasi keamanan di Distrik Kimaam.
“Kami datang melapor agar peristiwa yang terjadi di Kampung Kiworo diproses secara hukum. Masyarakat berharap ada perlindungan keamanan dan penanganan yang adil terhadap warga yang terdampak,” ujar Kepala Kampung Kiworo Eliander Emanuel Kanangku dalam keterangan yang diterima di Jayapura pada Selasa (21/7/2026).
Menurut keterangan pelapor, konflik tersebut diduga berkaitan dengan sengketa tanah ulayat Mandala Kimaam yang saat ini sedang ditempuh melalui mekanisme hukum di Pengadilan Negeri Merauke. Masyarakat menegaskan bahwa penyelesaian sengketa seharusnya dilakukan melalui jalur hukum, bukan melalui tindakan kekerasan.
Jumlah Korban dan Kerusakan Menurut Laporan Masyarakat
Berdasarkan laporan yang disampaikan masyarakat Kampung Kiworo kepada aparat penegak hukum, rangkaian konflik di Distrik Kimaam terjadi dalam tiga peristiwa terpisah, yakni pada 30 Juni 2026, 20 Juli 2026, dan 21 Juli 2026.
Peristiwa pertama dilaporkan terjadi pada 30 Juni 2026 sekitar pukul 18.30 WIT. Dalam kejadian tersebut, rumah adat Kampung Kiworo dilaporkan terbakar hingga hangus.
Selain kerusakan bangunan, sejumlah warga juga dilaporkan mengalami luka. Anton Kua disebut terkena proyektil yang disebut masyarakat sebagai peluru tabung gas, Yulianus mengalami luka akibat tembakan tabung gas, sementara Bapa Dawi dilaporkan terkena satu peluru senapan angin dan satu proyektil tabung gas.
Yakob juga dilaporkan mengalami luka akibat peluru tabung gas. Masyarakat turut melaporkan dugaan pencurian seekor babi dan sejumlah harta benda milik warga.
Peristiwa kedua dilaporkan terjadi pada 20 Juli 2026. Dalam kejadian ini, rumah milik Kepala Kampung Kiworo dilaporkan dibakar. Anton G. Kua dan Klemens disebut kembali mengalami luka akibat proyektil tabung gas.
Masyarakat kampung Kiriwo juga melaporkan dugaan pencurian seekor babi dan sejumlah harta benda. Selain itu, seorang warga lanjut usia bernama Ruben dilaporkan terkena lemparan kartafel saat berupaya memadamkan api di rumah yang disebut sedang dicoba dibakar oleh sekelompok pelaku yang diduga berasal dari beberapa kampung.
Peristiwa ketiga dilaporkan terjadi pada 21 Juli 2026. Dalam kejadian tersebut, sebuah rumah milik warga Kampung Kiworo atas nama Salestinus Awy dilaporkan dibakar. Selain itu, rumah milik Wilhelminus Awy juga dilaporkan mengalami perusakan.
Masyarakat Kampung Kiworo menyatakan bahwa dari tiga rangkaian peristiwa tersebut terdapat korban luka-luka, pembakaran rumah warga, serta dugaan pencurian harta benda yang dilakukan oleh pihak penyerang. Seluruh data tersebut, menurut masyarakat, telah disampaikan sebagai bagian dari laporan kepada aparat penegak hukum untuk diproses lebih lanjut.
Kronologi yang Disampaikan Masyarakat
Dalam dokumen kronologi yang diterima redaksi tomei.id, masyarakat menyebut bahwa sebelum peristiwa pembakaran rumah adat terjadi, Kepala Distrik Kimaam, Kapolsek Kimaam, Babinsa Kampung Kiworo, serta seorang anggota Polsek sempat bertemu dengan Kepala Kampung, ketua adat, dan tokoh-tokoh masyarakat Kiworo pada pagi hari sekitar pukul 09.00 WIT.
Pertemuan tersebut, menurut masyarakat, dilakukan sebagai upaya mencegah terjadinya aksi saling menyerang antara warga Kampung Kiworo dengan warga dari Kampung Kimaam dan Mambum. Aparat disebut telah menyampaikan imbauan agar tidak ada pihak yang melakukan penyerangan, terutama setelah adanya peristiwa kedukaan di Kampung Mambum.
Tokoh adat dan pemerintah Kampung Kiworo, menurut dokumen tersebut, menyatakan menerima imbauan aparat dan menegaskan bahwa masyarakat Kiworo tidak akan melakukan penyerangan ke kampung lain, melainkan hanya bertahan di wilayah kampung mereka sendiri.
Namun, masyarakat Kiworo mengklaim bahwa pada sore hingga malam hari setelah prosesi pemakaman warga di Mambum selesai, sekelompok warga dari beberapa kampung, yakni Kimaam, Mambum, Purawa, dan Umandiebu, dilaporkan masuk ke Kampung Kiworo dan melakukan penyerangan yang berujung pada pembakaran rumah adat serta perusakan rumah-rumah warga beserta perabotannya.
Dalam kronologi tersebut, masyarakat juga mencantumkan sejumlah nama yang mereka duga terlibat dalam peristiwa tersebut dan meminta aparat kepolisian melakukan penyelidikan menyeluruh terhadap seluruh pihak yang diduga terlibat. Redaksi tomei.id tidak mempublikasikan nama-nama tersebut sebagai pelaku karena hingga kini belum ada penetapan resmi dari aparat penegak hukum.
Masyarakat Kiworo juga menyatakan bahwa pada saat konflik berlangsung mereka tidak melihat adanya tindakan pengamanan yang efektif untuk menghentikan bentrokan. Mereka meminta aparat kepolisian melakukan penyelidikan menyeluruh terhadap seluruh rangkaian peristiwa yang terjadi di Kampung Kiworo.
Bantahan Moses Yeremias Kaibu
Sementara itu, Ketua Komisi IV DPR Provinsi Papua Selatan, Moses Yeremias Kaibu, membantah tudingan yang menyebut dirinya sebagai pihak yang melakukan provokasi dalam konflik di Kampung Kiworo. Ia menegaskan bahwa persoalan tersebut merupakan sengketa yang harus diselesaikan melalui mekanisme hukum.
“Persoalan ini seharusnya diselesaikan melalui jalur hukum, bukan dengan kekerasan. Semua pihak dipersilakan menyampaikan bukti sesuai mekanisme yang berlaku,” kata Moses dalam pernyataan yang beredar di media sosial.
Sebagai putra daerah Kiworo, Moses menyatakan dirinya tidak pernah mendorong terjadinya konflik dan mengajak seluruh pihak untuk menghormati proses hukum, menjaga keamanan, serta menghindari penyebaran informasi yang dapat memperkeruh situasi.
Polisi dan Pemerintah Belum Beri Keterangan Resmi
Terkait penanganan keamanan, masyarakat adat Kampung Kiworo menilai tindakan aparat di lapangan belum maksimal dalam mencegah terjadinya penyerangan terhadap kampung mereka. Masyarakat juga menyampaikan dugaan adanya keberpihakan aparat kepada kelompok penyerang.
Namun demikian, hingga berita ini dipublikasikan, pihak Polres Merauke, Pemerintah Kabupaten Merauke, Pemerintah Distrik Kimaam, Kapolsek Kimaam, Koramil Kimaam, maupun institusi TNI dan Polri belum memberikan keterangan resmi kepada tomei.id terkait dugaan penyerangan, pembakaran, dan perusakan di Kampung Kiworo. [*].












