NABIRE, TOMEI.ID | Di tengah khidmatnya upacara peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) 2026, perhatian ratusan pasang mata perlahan mengerucut pada satu titik di lapangan MEPA Boarding School, Nabire, Papua Tengah.
Bukan pada barisan pejabat, bukan pula pada podium utama, melainkan pada seorang siswa yang berdiri tegak memimpin jalannya upacara.
Ia adalah Deki Degei, siswa asal Kabupaten Paniai, Papua Tengah.
Dengan satu kaki kanan yang menopang seluruh tubuhnya, Deki berdiri lebih dari satu jam tanpa goyah. Suaranya tegas, aba-abanya jelas, dan sikapnya tenang. Dalam suasana hening yang tertib, ia memimpin jalannya upacara, sementara di hadapannya Gubernur Papua Tengah, Meki Nawipa, bersama jajaran pemerintah, menyaksikan keteguhan yang melampaui batas fisik.
Tak ada raut keluhan. Tak ada gestur menyerah. Hanya satu kaki yang menjadi tumpuan, dan dari situ, lahir pesan kuat bahwa keterbatasan tidak pernah benar-benar membatasi.
Usai upacara, Deki berbicara dengan nada ringan, tanpa beban. Ia tidak menempatkan dirinya sebagai sosok yang harus dikasihani, melainkan sebagai pribadi yang utuh dan percaya diri.
“Buat apa malu, saya tidak malu dengan saya punya kaki. Saya tidak capek, cuman betis saja yang tadi sakit sedikit,” ujar Deki Degei kepada tomei.id, Sabtu (2/5/2026).
Kalimat itu terdengar sederhana. Namun di balik kesederhanaannya, tersimpan keteguhan yang tidak semua orang miliki.
Deki kini duduk di kelas 10 B. Ia berasal dari SMP Satap Silas Gobai Pugaida, Distrik Ekaa Topaiya, Kabupaten Paniai, Papua Tengah. Perjalanannya menuju titik ini tidak mudah, namun ia memilih tidak menjadikan masa lalu sebagai pusat cerita hidupnya.
Ketika disinggung soal kehilangan kaki kirinya, ia lebih memilih diam. Air matanya sempat jatuh, tetapi tidak lama. Ia menahan, lalu kembali tenang.
Diamnya bukan tanda lemah. Justru dari situ terlihat jelas bahwa Deki tidak ingin dikenal karena luka, melainkan karena langkah yang ia tempuh hari ini.
Di balik sikapnya yang tenang, tersimpan mimpi besar menjadi Kepala Dinas Pendidikan. Sebuah cita-cita yang lahir dari keyakinan bahwa pendidikan adalah jalan untuk mengubah masa depan.
Deki menapaki jalannya dengan disiplin. Ia aktif dalam organisasi sekolah seperti OSIS, tekun belajar, dan rajin membaca. Baginya, keterbatasan fisik bukan alasan untuk berhenti, tetapi alasan untuk melangkah lebih jauh.
Ia tidak melihat dirinya sebagai “berbeda”. Ia merasa utuh, mampu, dan memiliki masa depan yang harus diperjuangkan.
Dukungan orang tua menjadi salah satu kekuatan yang ia pegang. Namun lebih dari itu, ada dorongan kuat dari dalam dirinya sendiri yang terus menjaga semangatnya tetap hidup.
“Tidak ada alasan dengan saya punya kaki, saya akan berjuang sampai mimpi saya terwujud,” pungkasnya.
Di akhir perbincangan, Deki menitipkan salam sederhana untuk semua “Koyao”, sapaan hangat kepada semua orang dalam bahasa Mee yang merefleksikan kedekatan dan rasa persaudaraan.
Lebih dari sekadar kisah inspiratif, kehadiran Deki di lapangan upacara tadi menjadi refleksi nyata tentang makna pendidikan yang sesungguhnya. Pendidikan bukan hanya soal ruang kelas dan kurikulum, tetapi tentang keberanian untuk berdiri, bahkan ketika keadaan tidak sempurna.
Di tengah wacana besar tentang pendidikan inklusif, sosok seperti Deki menjadi bukti bahwa kebijakan tidak boleh berhenti pada konsep, tetapi harus hadir nyata dan dirasakan langsung oleh mereka yang selama ini berada di pinggiran.
Tadi, di Nabire, seorang siswa asal Paniai berdiri dengan satu kaki. Namun menapaki masa depan dengan langkah yang jauh lebih kuat dari kebanyakan. [*].










